Ekonomi RI Kuartal I-2026: Meyakinkan tapi Belum Aman
Redaksi
15 April 2026 06:12

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga juga relatif cukup solid, bahkan tertopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran.
Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global.
Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 tekanan eksternal terjadi. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran secepat kilat telah membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Harga minyak Brent sempat menembus US$118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Lonjakan harga minyak telah menyebabkan pergerakan rupiah semakin liar. Bahkan beberapa kali menembus level terendahnya. Kini, rupiah masih bertahan di level Rp17.000-an/US$. Dengan kondisi cadangan devisa yang tergerus hingga US$3,7 miliar, nampaknya sulit bagi rupiah kembali ke level Rp16.000-an/US$ lagi, di tengah tekanan eksternal saat ini.

























