Logo Bloomberg Technoz

Memang, kenaikan harga minyak mentah belum merembes pada kenaikan biaya hidup sehari-hari seperti transportasi, logistik, atau harga bahan bakar itu sendiri. 

Pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung. 

Di tengah kondisi ini, menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama sebesar 5,5% hingga 5,6%. Namun, Bank Dunia sempat merevisi angka pertumbuhan 2026 menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,8%. 

Lantas, benarkah perekonomian RI secara fundamental masih baik-baik saja dan akan mampu bertahan di tengah ancaman eksternal? 

Keyakinan Konsumen Memudar

Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada awal April berkata sebaliknya. Keyakinan konsumen pada Maret tercatat turun menjadi 122,9 dan menempati posisi terendah dalam lima bulan terakhir. 

Memang, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) masih tumbuh 4,2 poin menjadi 129,2 dari Februari yang sebesar 125. Namun indikator lain mulai melemah. 

Persepsi terhadap lapangan kerja menurun yang tergambar pada angka Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang terkoreksi 2,9 menjadi 107,9 dari 110,7 pada Februari. 

Begitu juga dengan pembelian barang tahan lama ikut terkoreksi (IPDG) menjadi 109,2 dari 112. Perubahan perilaku konsumen terjadi dan terlihat menahan diri untuk tidak melakukan pengeluaran dalam jumlah besar. 

Turunnya pembelian barang tahan lama sejalan dengan data penjualan mobil wholesale (dari pabrik ke dealer) yang turun 24,58% secara bulanan dan 13,82% secara tahunan. Sementara itu, penjualan ritel mobil baru turun 14,8% secara bulanan menjadi 66.637 unit.

Konsumsi dan Kredit Melambat

Melansir data Bank Indonesia (BI), kredit pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada Februari 2026 terkontraksi 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), melanjutkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor riil, khususnya UMKM mulai kehabisan napas. 

UMKM kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusinya sebesar 61% terhadap PDB, dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. 

Dari data uang beredar bulan Februari juga ditemukan rincian bahwa kredit untuk usaha kecil terkontraksi 1,5% (yoy), sementara usaha menengah turun 0,4% (yoy). Bahkan segmen mikro, yang selama ini menjadi bantalan terakhir, hanya tumbuh 0,004%, nyaris stagnan. 

Kredit modal kerja UMKM, yang seharusnya menopang operasional harian seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah, dan distribusi, juga anjlok 4,9% (yoy). 

Kredit UMKM (Bloomberg Technoz)

Di sisi lain, konsumsi juga cenderung tertahan. Data inflasi menggambarkan adanya kenaikan biaya hidup yang tercermin dari inflasi energi sebesar 9,08%, serta kenaikan harga barang yang diatur pemerintah 6,08%, seperti tercatat dalam Laporan Badan Pusat Statistik Maret 2026. 

Tekanan inflasi paling terasa pada kelompok pengeluaran bersifat esensial, seperti makanan, minuman dan tembakau yang naik 3,34%. Secara bersamaan, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga melonjak 7,24%. Data ini menggambarkan adanya tekanan langsung pada biaya hidup sehari-hari. 

Sedangkan inflasi inti yang jadi cerminan permintaan domestik malahan melandai di level 2,52%. Lebih lanjut, terjadi pelemahan konsumsi pada kelompok non-esensial seperti kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi tipis sebesar 0,03%.

Deflasi yang terjadi pada kelompok ini menandakan bahwa rumah tangga sedang menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Perilaku masyarakat saat ini lebih menahan konsumsi dengan mengalihkan pengeluaran fokus pada kebutuhan dasar di tengah kenaikan harga makanan dan barang-barang yang esensial.

Fenomena Makan Tabungan 

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan keberlanjutan fenomena mantab, alias makan tabungan. Dana pihak ketiga (DPK) pada Februari Rp8.082 triliun, lebih rendah dari DPK pada Januari sebesar Rp8.112 triliun. 

Menyusutnya jumlah DPK ini disumbang oleh berkurangnya giro menjadi Rp2.302 triliun dari Rp2.345 triliun. Begitu juga dengan tabungan yang berkurang menjadi Rp2.859 triliun dari Rp2.862 triliun.

Adanya perlambatan pertumbuhan simpanan uang nasabah di bank dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan nasabah individu semakin banyak yang mencairkan simpanannya di bank atau tidak memperpanjang tenor dana mereka. 

Meski simpanan nasabah di bank menyusut namun tingkat konsumsi tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya. Inflasi Maret 2026 hanya tercatat 0,41% secara bulanan. Padahal, rentang waktu ini bersamaan dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya mengerek tingkat konsumsi. Agaknya masyarakat saat ini melakukan adaptasi konsumsi dengan mengurangi intensitas belanja di luar rumah. 

Revisi Proyeksi Bank Dunia

Di tengah gejolak harga energi, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,8%.

Perlambatan ekonomi ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama akibat kenaikan harga minyak serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan global. 

Bank Dunia menakar bahwa beban subsidi berpotensi memperlebar defisit fiskal RI, seiring keputusan pemerintah untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga energi. 

Kenaikan biaya dan harga yang terjadi, meski harga BBM bersubsidi ditahan, tetap akan menekan konsumsi rumah tangga yang jadi tulang punggung ekonomi domestik. 

Selain itu, Indonesia juga tercatat masih tertinggal dari sisi manufaktur dibandingkan negara lain di kawasan Asia. Negara lain yang menjadi peers di kawasan telah naik kelas ke industri berteknologi tinggi. Sementara Indonesia masih bergantung pada komoditas dan manufaktur bernilai tambah rendah. 

Dengan rendahnya nilai tambah sektor manufaktur, membuat Indonesia kesulitan membuka lapangan tenaga kerja. Sehingga, tenaga kerja di usia produktif cenderung mubazir. 

Skor B Ready 2024 menurut Topik Spesifik (Bloomberg Technoz)

Lebih lanjut, S&P Global Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat turun 2,7 poin menjadi 50,1 pada Maret, dibandingkan bulan sebelumnya 53,8. Turunnya PMI Maret dipicu oleh lemahnya permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru. 

S&P mencatat, penyebab utamanya adalah "pengurangan produksi dan pembelian bahan baku terjadi pada Maret," sebut laporan tersebut. 

Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok ikut menekan aktivitas industri. Di tengah kondisi ini, dunia usaha berpotensi melakukan rasionalisasi tenaga kerja dengan memangkas jumlahnya. 

Ekonomi yang Bertahan

Ekonomi kuartal I-2026 sepertinya menggambarkan kondisi yang hanya bertahan dari guncangan eksternal di tengah keterbatasan fundamental domestik. 

Daya beli mulai tertahan, kredit UMKM melemah, terkikisnya tabungan masyarakat melanjutkan tren dari tahun sebelumnya, dan sektor riil yang mulai kehabisan napas. 

Kala rumah tangga mulai mengencangkan ikat pinggan dan menahan belanja, hanya memprioritaskan kebutuhan pokok saja, alhasil pelaku usaha juga menahan ekspansi yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. 

Apabila harga energi terus tinggi, di atas asumsi makro yang jadi acuan perhitungan APBN, dan transmisi inflasi tak bisa lagi dibendung, maka ketahanan ekonomi RI bisa jadi goyah. 

Memang optimisme perlu tetap dijaga, tapi penguatan fondasi dan fundamental yang menopang narasi itu juga tetap perlu penguatan yang nyata. 

(dsp/aji)

No more pages