Logo Bloomberg Technoz

Penutupan efektif Selat Hormuz sejak awal konflik telah mengguncang pasar energi dan menjadi pusat konflik lebih dari enam pekan antara aliansi AS-Israel dan Iran. Gencatan senjata dua pekan disepakati pada 7 April.

Perundingan langsung AS dan Iran pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak mempermasalahkan apakah Iran kembali ke meja perundingan, dan mengumumkan blokade sebagai respons atas kegagalan mencapai kesepakatan di Pakistan. Ia juga mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Iran melawan.

Harga minyak melonjak seiring pengumuman tersebut. Minyak Brent sempat naik hingga 9,1% mendekati US$104 per barel pada Senin, sementara harga gas di Eropa melonjak hingga 18%.

Di berbagai belahan dunia, kilang dan pelaku pasar kini berlomba mengamankan pasokan minyak mentah karena pasokan fisik semakin ketat.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyindir kenaikan harga bahan bakar di AS, dengan menyatakan bahwa harga bensin saat ini akan terasa murah jika blokade benar-benar diterapkan.

Blokade terhadap kapal Iran berpotensi memutus sumber pendapatan utama Teheran dari ekspor minyak, yang tetap tinggi selama konflik. Dampaknya juga besar bagi China sebagai pembeli utama minyak Iran.

Sementara itu, China menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan menjaga stabilitas perdagangan global.

Di sisi lain, Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon untuk menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Tentara Israel menyatakan telah mengepung kota Bint Jbeil dan akan melancarkan serangan.

Perkembangan di Selat Hormuz dan Lebanon berpotensi memperpanjang konflik serta memperluas dampaknya, termasuk terhadap pasokan energi global dan risiko lonjakan inflasi.

Gencatan senjata dua pekan dijadwalkan berakhir pada 22 April, kecuali runtuh lebih cepat akibat blokade. Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati selat akan dianggap melanggar gencatan senjata.

Meski belum ada komitmen untuk melanjutkan perundingan, Iran menyatakan diplomasi tetap terbuka meski masih terdapat perbedaan utama dengan AS, terutama terkait program nuklir.

Analis Bloomberg Economics menilai blokade AS memang dapat dilakukan, tetapi memiliki biaya dan risiko besar, termasuk potensi eskalasi militer dan gangguan tambahan pada jalur energi global seperti Laut Merah.

Risiko dan tekanan dari pihak lain, termasuk China, dinilai dapat membuat AS tidak melanjutkan atau mempertahankan blokade dalam jangka panjang.

(bbn)

No more pages