Logo Bloomberg Technoz

Hasil pemilu ini menjadi pukulan bagi Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang sebelumnya berharap Orban—pemimpin dengan masa jabatan terlama di UE—tetap berkuasa. Kekalahan Orban juga menandai mundurnya kubu nasionalis di Eropa, di mana selama ini Orban menjadi pionir sekaligus penggerak utama partai Patriots, faksi terbesar ketiga di Parlemen Eropa.

Hasil ini menjadi kelegaan bagi Uni Eropa yang selama bertahun-tahun kewalahan menghadapi Orban. Selama ini, Putin mengandalkan Orban untuk memecah belah blok tersebut, menghambat bantuan krusial bagi Ukraina, serta melemahkan sanksi terhadap Moskow. Merespons kemenangan ini, mata uang Forint menguat ke level tertinggi dalam tiga tahun terhadap Euro.

"Hungaria sekali lagi akan menjadi sekutu kuat di Uni Eropa dan NATO," kata Magyar. "Tempat Hungaria adalah di Eropa, dan telah menjadi bagian dari Eropa selama seribu tahun."

Tumbangnya Orban kemungkinan besar akan membuka jalan bagi pencairan bantuan sebesar €90 miliar (sekitar Rp1.797 triliun) yang sangat dibutuhkan Kyiv untuk bertahan melawan invasi Rusia yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

“Hungaria telah memilih Eropa,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melalui X. “Eropa selalu memilih Hungaria. Bersama, kita lebih kuat.”

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy juga mengatakan melalui X bahwa ia siap untuk “pertemuan dan kerja sama konstruktif demi kepentingan kedua negara, serta perdamaian, keamanan, dan stabilitas di Eropa.”

Perubahan Besar di Dalam Negeri

Namun dampak terbesar pemilu Minggu akan paling terasa di Hungaria — negara yang pernah menjadi contoh keberhasilan transisi dari komunisme menuju demokrasi pasar, sekaligus tempat Orban menjadi figur politik dominan.

Orban bertransformasi dari pemimpin mahasiswa liberal anti-komunis pada 1980-an menjadi perdana menteri konservatif tengah-kanan pada 1998 di usia 34 tahun. Setelah kalah pada 2002, ia kembali berkuasa pada 2010 sebagai nasionalis pro-Kremlin dengan misi menghapus demokrasi liberal.

Magyar berhasil menggerakkan masyarakat selama dua tahun terakhir dengan pesan perubahan terhadap sistem Orban. Ia juga memanfaatkan meningkatnya kemarahan publik atas praktik kronisme, ekonomi stagnan, serta memburuknya layanan publik untuk menantang dan akhirnya mematahkan dominasi Orban.

Momentum tersebut kini bergantung pada pemenuhan janji perubahan — yang semakin mudah karena Tisza diperkirakan melampaui ambang 133 kursi untuk meraih mayoritas dua pertiga parlemen. Magyar mengatakan dominasi parlemen ini akan membuat perubahan “jauh lebih damai dan mulus.”

Namun ia juga mewarisi tantangan ekonomi yang turut menyebabkan kejatuhan Orban, termasuk belanja besar menjelang pemilu seperti pembebasan pajak penghasilan seumur hidup bagi ibu, serta kenaikan pensiun dan upah.

Pemerintah mencatat defisit berbasis arus kas sebesar 3,4 triliun forint (Rp184 triliun) pada kuartal pertama, rekor tertinggi untuk periode tersebut. Magyar harus segera memangkas anggaran guna mencegah peringkat kredit Hungaria turun ke level junk.

Mayoritas dua pertiga juga akan membantu pemerintahan Magyar meloloskan undang-undang penting untuk membuka lebih dari US$20 miliar dana Uni Eropa yang sebelumnya ditahan karena kekhawatiran terkait supremasi hukum dan korupsi. Langkah itu mencakup undang-undang antikorupsi, kerja sama dengan jaksa utama Uni Eropa, serta pemulihan kebebasan media dan akademik.

Magyar juga berjanji menerapkan batas dua periode bagi perdana menteri guna mencegah Hungaria kembali ke pemerintahan otoriter. Aturan itu akan mendiskualifikasi Orban — yang telah menjabat empat periode berturut-turut dan lima periode total — untuk mencalonkan diri kembali.

Reli Mata Uang dan Perubahan Arah

Prospek meredanya ketegangan dengan Uni Eropa — serta kemungkinan Hungaria mengadopsi euro yang selama ini ditentang Orban — telah memicu reli mata uang dan obligasi sebelum pemilu.

Sejak 2010, Orban mengandalkan mayoritas super untuk mengubah konstitusi dan aturan pemilu tanpa dukungan oposisi, serta memperluas pengaruhnya dari pengadilan hingga dunia bisnis dan pendidikan.

Dalam prosesnya, ia mengkritik kelompok minoritas, khususnya komunitas LGBTQ+ dan imigran, serta menargetkan jurnalis dan masyarakat sipil independen — langkah yang dinilai meniru strategi Kremlin.

Magyar, yang menyebut dirinya konservatif tengah-kanan, berhasil menyatukan kelompok liberal dan pemilih kecewa dari partai Fidesz di bawah payung Tisza.

Ia juga berhasil memenangkan dukungan daerah pedesaan melalui kampanye intensif hingga desa-desa kecil — yang sebelumnya menjadi basis kuat Fidesz.

Magyar berfokus pada isu ekonomi seperti krisis biaya hidup, pendidikan, dan layanan kesehatan. Ia juga berjanji meminta pertanggungjawaban pejabat senior atas dugaan penguasaan aset negara yang melahirkan kelompok elite kaya baru, termasuk keluarga dan sekutu Orban.

Hungaria kini berada di posisi terakhir Uni Eropa dalam peringkat korupsi lembaga pengawas Transparency International.

Bagi Uni Eropa, perubahan di Hungaria dinilai datang pada waktu yang tepat. Orban sebelumnya menentang bantuan bagi Ukraina dan bahkan menyebut Ukraina sebagai musuh, selaras dengan strategi Rusia yang menginvasi negara tetangga Hungaria pada 2022.

Magyar berjanji memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa dan negara kunci seperti Jerman dan Polandia, serta melonggarkan hubungan dengan Rusia, termasuk meninjau proyek ekspansi pembangkit listrik tenaga nuklir Paks Nuclear Power Plant yang dipimpin Rosatom Corp.

Di saat yang sama, Magyar memberikan tenggat panjang hingga dekade berikutnya untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas Rusia, meskipun Uni Eropa berencana memangkas ketergantungan energi terhadap Moskow dalam waktu dekat.

(bbn)

No more pages