Aset China muncul sebagai safe haven relatif sejak perang di Iran meletus. Hal ini didukung oleh ketahanan energi nasional, dukungan kebijakan pemerintah, serta keterpaparan yang terbatas terhadap konflik tersebut. Saham lokal mencatat penurunan yang lebih kecil dibanding bursa Asia lainnya. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi 10-tahun China hanya naik tipis tiga basis poin hingga Jumat lalu, sangat kontras dengan kenaikan setidaknya 40 basis poin pada obligasi Prancis, AS, dan Jerman.
Pemulihan ekonomi China juga dilaporkan semakin menguat. Negara ini berhasil keluar dari deflasi pabrik setelah lebih dari tiga tahun, yang kemudian memicu ekspektasi strategi reflation plays di pasar saham maupun obligasi.
Hingga Jumat, saham-saham domestik China mencatat kenaikan mingguan sebesar 4,4%, yang merupakan kenaikan pertama dalam empat minggu terakhir. Sementara itu, yield obligasi tenor 20 dan 30 tahun masing-masing turun sekitar enam basis poin, di mana tenor 30 tahun mencatat penurunan terdalam sejak awal November.
Kendati demikian, korelasi positif antara saham dan obligasi ini diperkirakan tidak akan bertahan selamanya. Para investor diprediksi akan kembali fokus pada isu-isu domestik setelah konflik di Timur Tengah mereda, terutama terkait lemahnya konsumsi rumah tangga dan krisis sektor properti yang masih membebani ekonomi.
Untuk saat ini, faktor eksternal masih menjadi pendorong utama minat terhadap pasar China.
“Korelasi positif belakangan ini disebabkan oleh berita-berita utama di Timur Tengah,” kata Xing Zhaopeng, strategi senior China di ANZ Bank China Co. “Logika mendasarnya mungkin karena investor sedang mengikuti pergerakan 'uang pintar' asing.”
(bbn)





























