“Dengan volume produksi yang menyusut drastis, basis perhitungan royalti, PNBP, dan bea keluar pun menyempit. Target resmi PNBP Minerba 2026 hanya Rp134 triliun—bahkan sedikit lebih rendah dari realisasi 2025 yang mencapai Rp138,37 triliun. Artinya, pemerintah sudah memasang target yang “realistis” dengan mempertimbangkan pemangkasan produksi ini,” kata Myrdal ketika dihubungi, Jumat (10/4/2026).
Lebih lanjut, analis komoditas dan Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyatakan pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 memang menjaga harga di level US$17.000 per ton, tetapi pembatasan tersebut secara otomatis membatasi volume ekspor.
Dengan begitu, dia menilai negara bakal sulit mendapatkan pendapatan yang stabil dari komoditas nikel, sebab produksi dari hulu sedang diperketat.
Sementara untuk batu bara, dia menyatakan meskipun harga batu bara Newcastle di atas US$130 per ton, namun pemangkasan produksi menjadi sekitar 600 juta ton dapat menggerus potensi tambahan setoran negara.
Begitu juga dengan tembaga, dia menilai belum beroperasinya tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) maka bakal membuat Indonesia kehilangan momentum untuk mengekspor konsentrat tembaga di level tertingginya, sekitar US$5,75 per ons atau sekitar US$12.676 per ton.
“Dalam pandangan saya, berharap pada windfall yang setara dengan periode 2021-2022 adalah sikap yang terlalu optimis atau kurang realistis untuk saat ini. Logika windfall hanya akan bekerja secara maksimal jika harga naik dibarengi dengan volume yang stabil atau meningkat,” kata Sutopo ketika dihubungi, Jumat (10/4/2026).
Adapun, Kementerian Keuangan melihat adanya potensi tambahan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam seiring kenaikan harga komoditas global akibat konflik di Timur Tengah.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menyampaikan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), nikel, dan tembaga telah mendorong penerimaan negara menjadi lebih tinggi, bahkan tanpa perubahan kebijakan.
“Ada kenaikan penerimaan karena memang kenaikan harga-harga [Sumber Daya Alam]. Jadi harga batu barangnya meningkat, harga CPO-nya meningkat, harga nikel juga meningkat, tembaga juga meningkat. Tanpa ada perubahan kebijakan, itu membuat penerimaan kita pasti akan meningkat,” kata Febrio ditemui di kompleks Badan Komunikasi Pemerintah RI, Kamis (9/4/2026).
Pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan tambahan windfall di luar penerimaan normal tersebut, dengan berbagai skema yang masih dibahas bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Febrio juga mengatakan bahwa Kementerian Keuangan juga tengah mempertimbangkan beberapa mineral yang bisa menambah pundi-pundi pendapatan negara tersebut, termasuk nikel.
Meski demikian, Febrio belum bisa memberikan angka pasti mengenai potensi windfall yang bisa diperoleh pemerintah lantaran hal ini masih dalam tahap pembahasan kebijakan.
Sekadar catatan, nikel di London Metal Exchange (LME) pada Jumat diperdagangkan sebesar US$17.088 per ton, turun 1,24% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara tembaga, di LME pada Jumat diperdagangkan seharga US$12.671 per ton, turun tipis 0,22% dibandingkan harga hari sebelumnya.
Pada Kamis (2/4/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 137,9/ton. Naik 0,51% dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan ini datang usai harga turun dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga batu bara anjlok hampir 5%.
Koreksi yang dalam tersebut membuat harga batu bara turun secara mingguan. Sepanjang pekan lalu, harga terpangkas 4,14%. Perdagangan minggu lalu hanya berlangsung empat hari karena libur perayaan Jumat Agung.
(azr/ros)





























