Eksposur dolar AS Garuda Indonesia paling besar bukan berasal dari utang bank, melainkan dari kewajiban ke lessor asing, vendor penerbangan global, dan obligasi restrukturisasi hasil PKPU.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan tahun buku 2025, total liabilitas sewa Garuda mencapai US$2,35 miliar.
Pos ini terutama berasal dari kontrak sewa pesawat dengan lessor luar negeri dan menjadi kewajiban terbesar Garuda, jauh melampaui pinjaman bank jangka panjang yang sebesar US$692,1 juta.
Dari total liabilitas sewa tersebut, bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$36,2 juta, sedangkan sisanya sekitar US$2,31 miliar masih merupakan kewajiban jangka panjang.
Eksposur ke lessor asing juga terlihat dari pengambilalihan kewajiban sewa dua Airbus A330-900 NEO dari Citilink yang sebelumnya menggunakan skema sublease dengan Avolon Leasing sebagai head lessor.
Selain itu, Garuda memiliki kewajiban pembiayaan restorasi mesin pesawat kepada CMB Oriental Leasing 31 Co. Ltd sebesar US$3 juta yang jatuh tempo pada 14 Februari 2026.
Garuda juga masih memiliki kewajiban besar ke vendor penerbangan global, termasuk lessor, kreditur sewa pembiayaan, pabrikan pesawat, dan vendor maintenance, repair and overhaul (MRO).
Kewajiban tersebut direstrukturisasi menjadi Obligasi Baru 2022 sebesar US$624 juta dan Sukuk Baru 2022 sebesar US$78 juta.
Per akhir 2025, saldo Obligasi Baru 2022 Garuda tercatat sebesar US$599,2 juta, termasuk kapitalisasi bunga dua tahun sebesar US$86,1 juta. Sementara saldo Sukuk Baru 2022 tercatat sebesar US$85,4 juta. Kedua instrumen ini jatuh tempo pada akhir 2031.
Jika ditotal, kewajiban Garuda yang sensitif terhadap dolar mendekati US$3,7 miliar.
Karena mayoritas pendapatan Garuda masih berasal dari pasar domestik, pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan beban sewa pesawat, biaya maintenance, pembayaran bunga obligasi, dan pelunasan utang ke counterpart luar negeri.
Krakatau Steel (KRAS)
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memiliki eksposur besar terhadap kewajiban dalam dolar AS.
Utang usaha KRAS kepada PT Krakatau Posco per akhir 2025 tercatat sebesar US$34,3 juta.
Karena diklasifikasikan sebagai utang usaha, kewajiban ini masuk kategori jangka pendek dan umumnya jatuh tempo kurang dari satu tahun.
Selain itu, KRAS memiliki utang usaha kepada PT Sankyu Indonesia International sebesar US$1,44 juta yang juga jatuh tempo dalam jangka pendek.
Di luar dua nama tersebut, KRAS memiliki total utang usaha valas sebesar US$153,2 juta.
Laporan tidak merinci seluruh nama krediturnya, tetapi kewajiban ini berasal dari pembelian slab, iron ore, scrap, coking coal, spare part, bahan baku baja, dan perlengkapan pabrik dari luar negeri.
Seluruh utang usaha tersebut masuk kategori kewajiban jangka pendek sehingga mayoritas jatuh tempo kurang dari satu tahun.
KRAS juga masih memiliki pinjaman jangka panjang total US$885,1 juta. Dari jumlah itu, sekitar US$167 juta jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun, sedangkan US$718,1 juta jatuh tempo lebih dari satu tahun.
Selain pokok pinjaman, KRAS masih memiliki accrued interest atau bunga pinjaman restrukturisasi sebesar US$230,7 juta.
Pembayarannya ditunda hingga akhir tenor restrukturisasi sehingga jatuh temponya mengikuti pinjaman pokok yang mayoritas berada di atas 2026.
(fik/naw)





























