Adapun, tangki penyimpanan BBM di Karimun memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 730.000 kiloliter. Tangki penyimpanan tersebut dimiliki oleh pihak swasta, yaitu PT Oiltanking Karimun.
Berdasarkan catatan Kementrian ESDM, storage BBM di Karimun dapat menambah stok BBM sebesar tiga hari. Fasilitas penyimpanan BBM tersebut juga sudah beroperasi sejak 2017.
Adapun, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan ketahanan stok BBM bersubsidi jenis Pertalite per 7 April 2026 mencapai 18,1 hari, tercatat berada tipis di bawah batas minimum nasional sejumlah 18,2 hari.
Dalam bahan paparan BPH Migas saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, dilaporkan bahwa stok Pertalite nasional per 7 April 2026 mencapai 1,51 juta kiloliter (kl).
Dari besaran itu, rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 84.038 kl per hari, sehingga ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) berada di level 18,1 hari.
“Untuk RON 90 atau Pertalite itu sebesar 18,1 coverage day yang saat ini juga statusnya sangat aman,” kata Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam RDP di Komisi XII DPR, baru-baru ini.
Selanjutnya stok Pertamax atau RON 92 secara nasional dilaporkan 382.284 kl dengan penyaluran 17.329 kl per hari dan ketahanan stok 22,1 hari. Stok Pertamax tersebut lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.
Sementara itu, Pertamax Turbo atau RON 98 memiliki stok 38.698 kl dengan penyaluran 832 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 46,5 hari, jauh di atas batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar atau CN 48, stok nasional tercatat 1.575.287 kl dengan penyaluran harian 95.638 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,5 hari. Stok Solar CN 48 tersebut tercatat di atas batas minimum 16,3 hari.
Pertamina Dex atau CN 53 memiliki stok 71.833 kl dengan penyaluran 1.113 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 64,5 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
“Kondisi stok BBM yang khusus untuk gasoil [solar] dan gasoline [bensin] ini memang pergerakannya sangat dinamis karena kebutuhan masyarakat,” ujar Wahyudi.
“Serta untuk keseimbangan stok yang terjaga, kami sudah konfirmasi dengan Pertamina Grup bahwasannya kilang, tetap produksi normal, tidak ada kegiatan-kegiatan maintenance, sehingga posisi fluktuatif ini terus terjaga dengan baik dan kondisinya memang sangat aman,” lanjut dia.
Untuk avtur, stok nasional tercatat 388.626 kl dengan penyaluran 13.816 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 28,1 hari, melampaui batas minimum 26 hari.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Sekadar informasi, anggota komite BPH Migas Fathul Nugroho melaporkan saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kiloliter.
Dia menjelaskan, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kiloliter di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kiloliter dimiliki non-Pertamina.
(azr/wdh)




























