Thailand sangat bergantung pada subsidi solar untuk melindungi rumah tangga dan industri. Dana minyak negara menghabiskan sekitar 1,24 miliar baht (US$38,5 juta) per hari, menurut para pejabat, mendorong defisitnya menjadi lebih dari 57,7 miliar baht.
Ekniti menggambarkan dana tersebut sebagai garis pertahanan pertama pemerintah, menolak seruan dari anggota parlemen oposisi untuk memotong pajak cukai bahan bakar. Dia berpendapat bahwa dampaknya akan serupa, sementara mengurangi pendapatan yang dibutuhkan untuk layanan publik.
Langkah-langkah dukungan tambahan sedang dipertimbangkan. Kabinet akan meninjau bantuan tambahan untuk sektor transportasi, serta kelompok rentan seperti petani dan nelayan, sambil menyiapkan dana darurat jika konflik berlarut-larut.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul juga telah berjanji akan memberikan bantuan yang lebih luas, termasuk restrukturisasi harga energi, pengalihan pengeluaran pemerintah, serta penyaluran bantuan tunai dan pinjaman lunak.
Guncangan energi ini sudah membebani prospek ekonomi. Para ekonom mulai memangkas proyeksi pertumbuhan Thailand karena kenaikan biaya bahan bakar menekan konsumsi dan mengganggu ekspor serta pariwisata dua penggerak utama perekonomian.
(bbn)































