Logo Bloomberg Technoz

Sementara Bursa Saham Asia juga menapaki jalur merah. Pada perdagangan siang hari ini, KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), SENSEX (India), KLCI (Malaysia), TOPIX (Jepang), Shanghai Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), dan IHSG (Jakarta) yang terpangkas masing–masing 1,73%, 1,51%, 0,93%, 0,79%, 0,75%, 0,69%, 0,64%, 0,54%, 0,53%, 0,4%, 0,28%, 0,23%, dan 0,15%.

Merahnya IHSG dan Bursa Asia siang hari ini imbas sentimen konflik Timur Tengah yang enggan mereda.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Ketua Parlemen Iran mengatakan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan AS telah dilanggar. Pertempuran terus berlanjut di Timur Tengah, yang dicorak oleh serangan Israel ke Lebanon.

Serangan itu mengancam gagalnya gencatan senjata yang rapuh dalam konflik yang sudah berlangsung selama enam minggu tersebut.

Pejabat Iran menganggap hal itu sebagai pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata yang baru berusia kurang dari sehari.

“Ketentuan Gencatan Senjata Iran–AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih—gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.

Dalam unggahan selanjutnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad–Bagher Ghalibaf menyebut terjadi pertempuran di Lebanon, serta klaim tentang drone yang memasuki teritori udara Iran dan “penolakan hak Iran untuk pengayaan uranium,” dengan mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu, “gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal.”

Terlebih lagi para pelaku pasar juga mencermati Selat Hormuz dan kemungkinan kembali tersendat pada arus energi melalui jalur tersebut.

Selat tersebut sebagian besar masih terblokir pada Rabu, ketika pemilik kapal mencoba memastikan keamanan pelayaran menyusul gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran yang diumumkan semalam.

Hanya tiga kapal yang terlihat meninggalkan daerah tersebut pada Rabu, menurut data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg. Sebagian memiliki keterkaitan dengan Iran, dan media negara itu kemudian melaporkan bahwa jalur tanker akan tetap diblokir setelah serangan di Lebanon.

Kondisi ini kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, tercermin dari kenaikan harga minyak sebesar 2–3% dan potensi kembali ke atas US$100 per barel,

sebut Phintraco dalam risetnya.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, seiring dengan berlanjutnya serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah serta ketidakpastian di Selat Hormuz yang kendatipun sempat dikabarkan akan dibuka penuh namun realisasinya menunjukan fakta sebaliknya. 

Bursa Asia bergerak cenderung melemah sepanjang Sesi I, pasar masih cukup fluktuatif di tengah ketidakpastian yang masih berlanjut terkait perjanjian gencatan senjata antara Iran dan pihak AS–Israel. 

“Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa beberapa poin dalam usulan gencatan senjata tersebut telah dilanggar menyusul serangan baru Israel terhadap Lebanon, sementara Teheran terus memblokir sebagian besar Selat Hormuz,” papar Panin Sekuritas dalam riset terbarunya siang hari ini, Kamis.

(fad)

No more pages