“Disparitas sebesar US$44 adalah angka yang luar biasa besar dan jarang terjadi. Secara teknis, ini disebut sebagai super backwardation,” kata Wahyu ketika dihubungi, Rabu (8/4/2026).
“Kesenjangan US$44 tersebut adalah alarm bahwa mekanisme arbitrase antara pasar kertas [berjangka] dan pasar nyata [fisik] sedang terganggu, biasanya karena kendala logistik yang parah atau risiko geopolitik yang membuat minyak fisik menjadi komoditas yang sangat langka,” tegas Wahyu.
Pengaruhi Pembelian
Lebih lanjut, Wahyu memandang kondisi tersebut bakal memengaruhi pembelian minyak mentah yang dilakukan perusahaan kilang. Alasannya, mereka berpotensi mendapatkan harga minyak yang tinggi, sebab impor didatangkan dalam waktu dekat.
“Mereka tidak peduli dengan prediksi 6 bulan ke depan; mereka butuh minyak hari ini agar pabrik tetap beroperasi, sehingga mereka terpaksa ‘hajar kanan’ di harga fisik berapapun asalkan barang ada,” ujar Wahyu.
Dengan begitu, Wahyu memprediksi fenomena tersebut bakal memberikan insentif bagi pemegang stok untuk segera menjual minyak ke pasar, alih-alih menyimpannya di tangki.
“Tidak ada gunanya menyimpan barang jika harga bulan depan lebih murah daripada harga hari ini. Ini adalah sinyal bahwa pasar sedang sangat ketat atau tight supply,” papar dia.
Harga berjangka minyak Brent anjlok di bawah US$100/barel setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat menghentikan kampanye militer Amerika-Israel sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran.
Harga berjangka Brent turun hingga 16% menjadi US$91,70/barel pada pembukaan hari ini, Rabu (8/4/2026).
Bagaimanapun, di pasar fisik, harga acuan terpenting dunia untuk barel minyak mentah di dunia nyata itu melonjak ke rekor tertinggi, menandakan bukti terbaru dari pasar minyak mentah global yang makin memperhitungkan pasokan yang makin langka setelah perang Iran.
Dated Brent, yang membantu menentukan nilai sebagian besar transaksi minyak dunia, mencapai US$144,42/barel pada Selasa, tertinggi sejak Platts, sebuah unit dari S&P Global Energy, pertama kali mulai menerbitkan ukuran tersebut pada 1987.
Patokan ini didasarkan pada periode pengiriman yang lebih cepat daripada Brent berjangka — yang diperdagangkan mendekati US$109 pada Selasa — sebuah indikasi adanya desakan untuk mengamankan barel untuk pengiriman sesegera mungkin.
Para pembeli "membayar premi luar biasa untuk barel minyak Atlantik yang aman dan siap pakai yang tersedia saat ini," tulis analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats, dalam sebuah catatan seperti dikutip Bloomberg News.
"Begitu Asia mulai menawar barel pengganti dari Atlantik, tekanan mulai berpindah ke sistem Brent."
Meskipun kontrak berjangka pada akhirnya berlabuh pada harga fisik, kontrak tersebut juga memperhitungkan ekspektasi pasokan, permintaan, dan prospek ekonomi di bulan-bulan mendatang.
Dated, seperti yang dikenal oleh para pedagang minyak, telah didorong lebih tinggi oleh perang di Iran karena konflik tersebut memangkas aliran energi melalui Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar seperlima minyak dunia.
Pemerintah Iran secara resmi menanggapi keputusan Presiden AS Donald Trump terkait penangguhan serangan militer selama dua pekan. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran siap menghentikan operasi defensif dan membuka kembali akses Selat Hormuz untuk sementara waktu.
Araghchi mengatakan, Iran merespons permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang mendorong upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik, serta mempertimbangkan permintaan AS untuk melakukan negosiasi berdasarkan proposal 15 poin yang diajukan Washington. Selain itu, Iran juga mencermati pernyataan Trump yang menerima kerangka umum proposal 10 poin dari Teheran sebagai dasar perundingan.
Dia juga menyatakan bahwa selama periode dua pekan, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz dapat dibuka dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran, serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.
(wdh)




























