Logo Bloomberg Technoz

Di tengah situasi pasar energi yang penuh dengan ketidakpastian sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, Moshe berpandangan perusahaan migas global akan cenderung menahan diri. 

Bahkan, menurutnya, alih-alih berinvestasi ke sektor yang tinggi risiko seperti proyek eksplorasi atau pengembangan lapangan migas baru, mereka justru lebih memilih fokus memaksimalkan investasi pada lapangan produksi yang sudah ada.

"Kenapa? Untuk mendapat revenue karena [lapangan eksisting] sudah pasti kan langsung dapat sekarang uangnya. Sifatnya seperti itu. Biasanya kalau lagi harga minyak lagi tinggi, mereka akan fokuskan ke produksi-produksi yang sudah ada. Jadi ditingkatkan segala dana sebagainya untuk dapat cash, dapat revenue yang lebih tinggi lagi," jelasnya. 

Anjungan pengeboran minyak di laut./dok. Bloomberg

Sejumlah raksasa migas seperti Shell dan Chevron, padahal, tengah gencar menggelontorkan investasi ke energi terbarukan.

Namun, setelah ketidakpastian meningkat, sebagian dari mereka justru mengerem atau melepas investasi tersebut karena dinilai memiliki tingkat risiko dan periode pengembalian yang lebih panjang. Moshe memberi contoh kasus pecahnya Perang Russia dan Ukraina.

"Kita lihat sejak Perang Ukraina dan Rusia, perusahaan-perusahaan migas, itu jadi menumpuk uang karena produksi yang sudah ada, tetapi melepas diri dari investasi yang berisiko seperti misalkan investasi ke energi baru terbarukan," tuturnya.

Perkiraan produksi minyak skenario menengah dan agresif dalam ribu barel per hari. (SKK Migas).

Tetap Menarik

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto sebelumnya meyakini investasi di hulu migas Indonesia bakal tetap menarik, meskipun harga minyak mentah melonjak akibat penutupan jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz.

Djoko mengatakan pendapatan di sektor hulu migas justru bakal meningkat dengan kondisi tersebut, sedangkan untuk sektor hilir migas dia enggan berkomentar.

“Dari hulu akan ada pendapatan meningkat, harganya naik. Kalo dari hilir saya enggak tahu, di hulu bagus,” kata Djoksis kepada awak media, di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/3/2026).

SKK Migas menargetkan investasi hulu migas 2026 senilai US$ 16 miliar, naik 3,7% dari proyeksi 2025. Menurut catatan SKK Migas, Indonesia membutuhkan investasi US$20 miliar per tahun untuk dapat mencapai ambisi lifting minyak 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030.

(prc/wdh)

No more pages