Logo Bloomberg Technoz

Kompenen Fiber Optik Naik Tekan Pembangunan Infrastruktur Telko

Merinda Faradianti
09 April 2026 13:36

Kabel jaringan infrastruktur telekomunikasi dari fiber optik. dok: Bloomberg
Kabel jaringan infrastruktur telekomunikasi dari fiber optik. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menyoroti lonjakan harga bahan baku fiber optik yang dipicu oleh kenaikan harga dari pemasok asal China, meskipun jalur distribusi tidak sepenuhnya melalui Selat Hormuz. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.

APJATEL mencatat bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor fiber optik masih sangat tinggi, mencapai sekitar 90%. Kondisi ini membuat industri dalam negeri rentan terhadap fluktuasi global.

Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Siregar, mengatakan konflik geopolitik global yang berkepanjangan turut memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasok industri, termasuk sektor telekomunikasi. Ia mengungkapkan, salah satu bahan yang kini langka di pasar adalah corning, yang merupakan bahan utama fiber optik.

“ [Corning] itu bahan baku fiber optik, dan juga digunakan untuk kebutuhan lain seperti alutsista,” katanya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada HDPE, material pelindung kabel fiber optik. Menurutnya, harga bahan ini mengalami kenaikan signifikan di tengah terganggunya distribusi global.

“Distribusi global, termasuk yang melewati Selat Hormuz sekitar 20–25%, ikut memengaruhi. Di internal kami, kenaikan bisa mencapai 15–17%, salah satunya HDPE,” katanya. Namun demikian, Jerry menilai kenaikan harga dari China juga dipengaruhi strategi bisnis, bukan semata faktor distribusi.

“Secara peta global, distribusi dari China tidak harus lewat Selat Hormuz. Tapi momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga. Ini kan bisnis, mereka tentu mencari keuntungan,” kilah Jerry.

Jerry menjelaskan, saat ini total panjang jaringan fiber optik di Indonesia baru mencapai sekitar 1 juta kilometer dan belum merata di seluruh wilayah. “Dari 514 kabupaten/kota dan sekitar 38 provinsi, cakupan kita masih sekitar 30%. Tidak semua daerah bisa terlayani karena investasi fiber optik cukup mahal,” ungkapnya.

Meski menghadapi tekanan biaya, APJATEL memastikan pembangunan jaringan tetap berjalan, namun dengan penyesuaian target. Untuk itu, APJATEL mendorong adanya perhatian khusus dari pemerintah, termasuk kemungkinan insentif dan relaksasi kebijakan guna menjaga keberlanjutan pembangunan jaringan.

“Bukan tidak ada pembangunan, tapi tidak dalam kondisi normal. Misalnya target 50 km per tahun, mungkin hanya bisa 10 km karena biaya bahan meningkat,” pungkas dia.