Lagipula, kata Jusuf Kalla, kenaikan harga BBM juga dilakukan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dalam hal ini, pemerintah di negara-negara tersebut memberikan penjelasan dengan baik bahwa kenaikan harga BBM terpaksa dilakukan karena faktor eksternal. Sehingga kebijakan tersebut tak memicu reaksi negatif dari masyarakat.
"Ya pasti sementara ada protes, tetapi ingat yang paling banyak memakai BBM yang punya mobil. Yang punya mobil itu pertama dia lebih mampu jadi kalau naik saja 20-30% itu bagi mereka tentu tidak, biasa saja. Kedua kalau motor tentu, bisa diatur," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan bertambah hingga Rp100 triliun. Hal ini terjadi karena pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
“[Anggaran subsidi nambah] Rp90 triliun-Rp100 triliun. Itu subsidi, kompensasi lain lagi,” kata Purbaya ditemui di kantor Danantara, Rabu (1/4/2026).
(dov/frg)



























