"Sistem penciuman utamanya berfungsi sebagai sistem penghindar untuk belajar memperingatkan kita tentang bahaya di lingkungan," ujar Lundström.
Ketika sebuah aroma dikaitkan dengan ancaman, sensitivitas kita terhadapnya juga dapat meningkat drastis. Dalam sebuah studi, Lundström dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa menghubungkan suatu bau dengan kejutan listrik dapat membuat orang mendeteksi aroma tersebut pada konsentrasi yang jauh lebih rendah—sebuah respons yang kemungkinan besar berevolusi untuk membantu manusia bereaksi cepat terhadap potensi bahaya, bahkan ketika baunya hanya tercium samar.
Hal serupa terjadi pada aroma telur busuk dari hidrogen sulfida, gas yang dihasilkan dalam pengolahan limbah, yang dapat dirasakan pada konsentrasi serendah 0,5 bagian per miliar—sebuah lonceng peringatan untuk gas yang mematikan dalam konsentrasi tinggi.
Dampak Nyata Bagi Kesehatan
Sebuah tinjauan studi tahun 2021 menemukan adanya "masuk akal secara biologis" di balik gejala seperti sakit kepala atau muntah yang disebabkan oleh bau busuk.
Sebagai contoh, aroma yang sangat tidak enak dapat memicu saraf vagus—bagian utama dari sistem saraf yang menghubungkan otak dan usus—sehingga membuat seseorang merasa mual atau ingin muntah. Namun, para ilmuwan di balik tinjauan tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa penelitian lebih lanjut mengenai dampak fisiologis dari bau masih diperlukan untuk menarik kesimpulan yang jelas.
Besarnya dampak terhadap kesehatan kita juga bergantung pada seberapa khawatir kita terhadap bau tersebut. "Dampak kesehatan dimediasi melalui rasa tidak suka atau ketakutan individu terhadap suatu aroma," kata Pamela Dalton, seorang psikolog kognitif di Monell Chemical Senses Center di Philadelphia, AS, yang telah menghabiskan 32 tahun meneliti dampak kesehatan dari aroma. Semakin Anda merasa cemas terhadap suatu bau, semakin besar dampaknya terhadap kesehatan dan kesejahteraan Anda.
(spt)






























