Setelah sepekan terakhir, prajurit TNI menjadi korban atas serangkaian insiden yang terjadi di Lebanon Selatan. Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3/2026). Empat anggota TNI pertama kali menjadi korban saat pasukan Israel menyerang Hizbullah di Indobatt UNP 7-1, Desa Achid Alqusayr, Lebanon Selatan.
Dalam serangan tersebut, Praka Farizal Rhomadhon dinyatakan meninggal dunia. Satu prajurit lain mengalami luka berat dan harus dilarikan ke RS St George, Beirut; sedangkan dua prajurit lainnya menjalani perawatan dari tim medis UNIFIL karena mengalami luka ringan.
Insiden kedua terjadi pada Senin (30/3/2026) saat tim escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.
Dua Prajurit TNI meninggal dunia dalam serangan tersebut yaitu Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Sementara, dua lainnya mengalami luka yaitu Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto sudah dievakuasi dan dalam penanganan medis di Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon.
Insiden terakhir terjadi pada Jumat (03/04/2026). Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Banga (PBB) di Indonesia (UNIC) melaporkan tiga penjaga perdamaian asal Indonesia terluka karena sebuah ledakan di fasilitas PBB di dekat EL Adeisse, Lebanon Selatan.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengungkapkan dua dari tiga penjaga perdamaian mengalami luka serius gegara ledakan tersebut.
(dov/frg)





























