Logo Bloomberg Technoz

TNI Soal Drone Bawah Laut China Masuk Indonesia: Pengawasan Lemah

Dovana Hasiana
19 May 2026 20:30

KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali luncurkan buku karyanya berjudul Diplomasi Sang Hiu Kencana di Koarmada II, Surabaya, Sabtu (20/4/2024). (Dok. TNI AL)
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali luncurkan buku karyanya berjudul Diplomasi Sang Hiu Kencana di Koarmada II, Surabaya, Sabtu (20/4/2024). (Dok. TNI AL)

Bloomberg Technoz, Jakarta - TNI Angkatan Laut mengakui belum maksimal melakukan pengawasan atau underwater surviellance wilayah bawah laut perairan Indonesia. Hal ini diungkap saat menanggapi penemuan sebuah drone bawah air milik China yang bisa menembus hingga perairan Selat Lombok, NTB.

"Kita belum maksimal dalam melakukan underwater surveillance ini. Dan, itu membutuhkan waktu dan biaya yang cukup tinggi," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali di DPR, Selasa (19/05/2026).

Dia mengatakan, drone bawah air milik China yang ditemukan bukanlah jenis UAV atau kapal tanpa awak yang digunakan militer untuk mengintaian dan tempur. Drone tersebut jenis UUV yang lebih sederhana dan biasa untuk misi khusus seperti riset.


"Sifatnya alat sensor untuk mengukur salinitas kedalaman, kekuatan arus dan kecepatan arus," ujar dia.

Menurut Ali, drone tanpa pendorong ini biasanya memang digunakan untuk kepentingan sipil seperti riset. Akan tetapi, dia menilai, drone ini juga bisa digunakan untuk kebutuhan militer seperti pengumpulan data layer bawah air -- biasa untuk kebutuhan kapal selam agar menghindari deteksi sonar.