Sebelum konflik di Timur Tengah, tekanan inflasi di Indonesia sudah diperkirakan akan meningkat, didorong oleh kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan makroprudensial yang dapat meningkatkan jumlah uang beredar dan, pada gilirannya, meningkatkan tingkat inflasi.
Tak hanya itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berlangsung juga kemungkinan akan mendukung permintaan pangan, menimbulkan risiko kenaikan inflasi harga yang bergejolak jika tidak disertai dengan peningkatan yang memadai dalam ketahanan pangan, karena program tersebut berpotensi mengganggu pasokan pangan.
“Namun, tekanan ini mungkin sebagian dapat ditahan oleh kesenjangan output negatif Indonesia, yang menunjukkan permintaan agregat yang relatif moderat dan risiko inflasi tarik-tarik permintaan yang signifikan lebih rendah,” ujarnya.
Faisal menyebut tekanan inflasi eksternal terus meningkat dan kemungkinan akan semakin intensif di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah, berpotensi membebani stabilitas rupiah, sehingga berkontribusi pada inflasi impor.
Terutama, peningkatan risiko geopolitik dapat mendorong harga minyak global lebih tinggi, menambah tekanan pada posisi fiskal Indonesia, khususnya melalui peningkatan pengeluaran subsidi. Oleh karena itu, hal ini berpotensi meningkatkan inflasi harga yang diatur, mengingat status Indonesia sebagai net importir minyak.
(lav)





























