Menurut sejumlah pelaku pasar, sebagian pengelola dana investasi mengeluhkan likuiditas DSSA yang tipis setelah masuk ke MSCI Standard Index tahun lalu.
Sebagian fund manager disebutkan tidak mendapat jatah saham DSSA yang masuk ke indeks global tersebut. Padahal, kapitalisasi pasar DSSA sudah tembus di level Rp543,23 triliun pada perdagangan hari ini.
Pelaku pasar juga menuturkan, persoalan likuiditas DSSA itu yang kemudian menyulut MSCI untuk mengambil sikap keras kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membenahi transparansi pemegang saham di Indonesia.
Belakangan, MSCI membekukan penambahan konstituen baru dan peningkatan bobot saham Indonesia pada Februari 2026. Penyedia indeks global itu memberi waktu regulator berbenah sampai bulan depan.
Di sisi lain, Daniel menuturkan, perseroannya tidak memiliki informasi terkait dengan keluhan sebagian manajer investasi tersebut. “Kita sebagai perusahaan kita tidak memiliki hubungan langsung,” kata dia.
Isu Free Float
Sebelumnya, MSCI turut memangkas bobot saham DSSA dalam MSCI Indonesia Index pada hasil tinjauan indeks Agustus 2025.
Keputusan itu diambil selepas ketidakpastian terkait jumlah saham beredar atu free float DSSA, meski emiten yang dikendalikan Grup Sinar Mas tersebut memiliki kontribusi besar dalam peforma indeks.
MSCI menetapkan faktor penyesuaian sebesar 0,5 terhadap Foreign Inclusion Factor (FIF) DSSA. Dengan keputusan itu, FIF saham perseroan turun dari 0,25 menjadi 0,13, yang mulai tercermin dalam dokumen Advanced Corporate Event (ACE) per 21 Agustus 2025.
FIF merupakan faktor penyesuaian yang digunakan MSCI untuk menghitung porsi kapitalisasi pasar suatu saham yang dapat dimasukkan ke dalam indeks, terutama dengan memperhatikan tingkat keterbukaan bagi investor asing.
Makin rendah nilai FIF, makin kecil pula bobot saham tersebut dalam perhitungan indeks.
Lewat data pemegang saham yang dihimpun KSEI per 27 Februari 2026, saham DSSA sebagian besar dipegang afiliasi Grup Sinar Mas lewat kepemilikan PT Sinar Mas Tunggal sebesar 59,9% dan 19,68% saham treasuri.
Sementara itu, terdapat tiga bank investasi yang memegang saham DSSA di antaranya Citibank Hong Kong sebesar 4,14%, Fitzgerald & Wilkinson Investment Ltd sebesar 3,78% dan Bank of Singapore Limited sebesar 1,13%.
Adapun, UOB Kay Hian Private Limited menggenggam saham DSSA mencapai 3,74% sampai periode akhir bulan lalu.
Menurut Daniel, keempat rekening pemegang saham DSSA yang disebut terakhir tidak terkait dengan Grup Sinar Mas.
Dia menegaskan free float saham DSSA saat ini berada di level 20%, lebih tinggi dari batas bawah yang ditetapkan OJK sebesar 15% -- dalam aturan terbaru.
“Kita tidak mengetahui ini rekening PT, investment bank atau sekuritas kita sebenarnya tidak tahu juga punya siapa, sebagai manajemen,” tuturnya.
Di sisi lain, dia berharap, saham DSSA bakal balik likuid setelah manajemen memutuskan untk memecah saham atau stock split dengan rasio 1:25.
Konsekuensinya, nilai nomimal saham akan turun dari Rp25 per lembar menjadi Rp1 per lembar. Dengan demikian, jumlah saham yang ditempatkan dan disetor meningkat dari 7,7 miliar saham menjadi sekitar 192,6 miliar saham.
Nilai nominal saham setelah pemecahan akan diperdagangkan di pasar reguler dan negosiasi pada 9 April 2026 dan pasar tunai pada 13 April 2026.
(naw)


























