Ateng juga menjelaskan sepanjang Februari 2026, komoditas impor terbesar yakni mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) senilai US$3,74 miliar, kemudian mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$2,74 miliar, serta plastik dan barang dari plastik senilai US$0,87 miliar.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perdagangan Budi Santoso menuturkan Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan Timur Tengah.
“Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah nafta. Nafta itu 60% kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana Kepresidenan, Rabu (1/4/2026).
Tak hanya Indonesia, dia memastikan gangguan ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di Asia. Beberapa produsen di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand mengalami kondisi force majeure.
“Sehingga yang kita impor plastik pun juga sedikit terganggu,” jelasnya.
Budi mengatakan Indonesia kini mulai menjajaki sumber baru dari berbagai negara dan mencari alternatif pasokan bahan baku plastik menyusul terganggunya impor dari Timur Tengah seperti Amerika Serikat, India, dan Afrika.
Meski begitu, dia mengakui proses peralihan pasokan tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan penyesuaian rantai distribusi.
(ain)


























