Logo Bloomberg Technoz

IRGC Bakal Serang 18 Perusahaan AS, Ada Google-Microsoft-Apple

Merinda Faradianti
01 April 2026 14:55

Ilustrasi IRGC Targetkan Google, Meta Hingga Apple dalam Serangan Siber (Diolah)
Ilustrasi IRGC Targetkan Google, Meta Hingga Apple dalam Serangan Siber (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bakal menargetkan beberapa perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat (AS) yang beroperasi di Timur Tengah, berdasarkan laporan Sepah News, media militer Iran, dikutip Rabu (1/4/2026). 

Serangan itu direncanakan akan dilangsungkan pada 1 April 2026 pukul 20.00 waktu Teheran, Iran. Ancaman tersiar melalui Telegram pada hari Selasa waktu setempat, dilaporkan juga oleh CBS News.

Dalam pernyataannya, IRGC menargetkan setidaknya 18 perusahaan yang dituduh terlibat dalam perencanaan serta pelacakan target serangan militer AS di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung.

Perusahaan raksasa yang ditargetkan IRGC ini diantaranya Apple, Microsoft, Google, Meta, NVIDIA, Oracle, Tesla, HP, Intel, Cisco, Boeing, dan IBM. Mereka sudah telah “meremehkan peringatan berulang kami mengenai perlunya menghentikan operasi teroris, dan hari ini, sejumlah warga Iran gugur dalam serangan teroris yang dilakukan oleh Anda dan sekutu Israel Anda.”

Bisnis masa depan Microsoft adalah layanan cloud. Investasi pusat data dikebut. (Bloomberg)

“sejak elemen utama dalam merancang dan melacak target teroris adalah perusahaan penyedia produk, layanan, atau infrastruktur teknologi (ICT) dan kecerdasan buatan (AI) Amerika, sebagai tanggapan atas operasi teroris ini, mulai sekarang lembaga-lembaga utama yang berperan dalam operasi teroris akan menjadi target sah kami.”

Baca Juga: Spesifikasi Jet Canggih E-3 Sentry yang Dirudal Iran

Tak hanya perusahaan yang terafiliasi dengan AS saja yang ditargetkan IRGC, namun ada satu perusahaan asal Uni Emirat Arab, G42 atau Group 42 Holding Ltd yang diincar dalam operasi tersebut. Perusahaan AI ini merupakan konsorsium asal Uni Emirat Arab.

“Perusahaan ini harus bersiap menghadapi penghancuran unit mereka masing-masing sebagai balasan atas setiap aksi teror di Iran,” tulis IRGC.


Sementara itu dalam laporan Axios, kelompok peretas pro-Iran kini meningkatkan strategi serangan siber mereka dengan menggabungkan kebocoran data dan intimidasi langsung terhadap individu, termasuk pejabat pemerintah dan karyawan perusahaan besar.

Pada laporan yang sama, dalam periode sepekan terakhir, kelompok Handala Hack Team, dilaporkan merilis sejumlah data yang diklaim berasal dari akun pribadi Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), Kash Patel. Selain itu, kelompok tersebut juga mengklaim telah membocorkan data yang terkait dengan karyawan Lockheed Martin di Amerika Serikat dan Israel.

Tak hanya merilis data, kelompok ini melakukan intimidasi langsung terhadap individu, termasuk meminta informasi sensitif seperti lokasi, anggota keluarga, hingga aktivitas sehari-hari. Namun, klaim terhadap Lockheed Martin hingga kini belum terverifikasi kebenarannya.

Juru bicara Lockheed Martin sebelumnya menyatakan perusahaan ‘menyadari laporan tersebut’ namun tetap yakin terhadap keamanan sistem informasinya yang berlapis. Sementara itu, investigasi independen menemukan sebagian nomor telepon yang dikaitkan dengan karyawan perusahaan tidak aktif, menambah keraguan atas validitas data yang beredar.