Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal PBB segera menerapkan langkah darurat guna menjamin keselamatan pasukan UNIFIL. Langkah tersebut termasuk peninjauan protokol keamanan serta aktivasi rencana kontinjensi dan evakuasi sesuai perkembangan situasi di lapangan.
“Keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian harus tetap menjadi prioritas utama,” kata Umar.
Dalam pidatonya, Indonesia juga menyampaikan duka mendalam atas gugurnya prajurit TNI. Umar Hadi menyebut nama tiga prajurit yang gugur, yakni Mayor Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), Sersan Satu Muhammad Nur Ikhwan (25), dan Kopral Fahrizal Ramadan (27).
“Kami tidak dapat menerima pembunuhan terhadap penjaga perdamaian ini. Ini merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. Ini juga kehilangan besar bagi kita semua,” lanjutnya.
Ia menjelaskan Kopral Fahrizal Ramadan gugur saat bertugas di pos UNIFIL di Ashid al-Qusayr, sementara Mayor Zulmi dan Sersan Satu Muhammad Nur Ikhwan tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayat. Selain tiga prajurit yang gugur, lima personel lainnya juga mengalami luka-luka, yakni Kapten Sultan Wiryan Molana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Taruna Dua Demi Rianto.
Indonesia juga mendesak pemulangan jenazah prajurit yang gugur secara cepat, aman, dan bermartabat, serta meminta perawatan medis terbaik bagi prajurit yang terluka.
“Indonesia mendesak semua pihak terkait untuk memastikan pemulangan jenazah secara cepat, aman, dan bermartabat, serta meminta perawatan medis terbaik dan komprehensif bagi lima penjaga perdamaian yang terluka,” ujar Umar.
Indonesia juga menolak anggapan bahwa korban berada di zona perang aktif sebagai alasan atas insiden tersebut. Umar menilai eskalasi konflik tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh serangan berulang militer Israel ke wilayah Lebanon.
“Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon,” tegasnya.
Indonesia juga menilai serangan terhadap pasukan UNIFIL dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar insiden biasa, melainkan serangan yang disengaja untuk melemahkan mandat resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
“Serangan-serangan ini bukan sekadar insiden, tetapi serangan yang disengaja untuk melemahkan UNIFIL dan menghambat pelaksanaan mandatnya,” pungkas Umar.
(del)





























