Dengan redanya sentimen perang, indeks dolar AS tercatat menyusut 0,17% ke 99,79, lalu tak berselang lama kembali melemah 0,25% ke 99,71. Hal ini membawa angin segar bagi sebagian mata uang di pasar Asia.
Kawasan Asia menyambut sinyal de-eskalasi itu dengan penguatan mata uang. Baht Thailand menguat 1,37%, won Korea Selatan 0,8%, ringgit Malaysia 0,56%, dolar Singapura 0,17%, yuan offshore 0,09% dan dolar Hong Kong 0,03%.
Dari domestik, kebijakan efisiensi membuat pasar bisa sedikit bernafas meski belum sepenuhnya lega lantaran risiko pelebaran defisit fiskal masih membayangi.
Melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah merumuskan delapan kebijakan efisiensi sebagai upaya mitigasi ketegangan geopolitik.
Di antaranya, penerapan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), membatasi pengisian BBM bagi kendaraan maksimal 50 liter dan menerapkan B50, mengurangi jumlah hari distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pengalihan belanja kementerian/lembaga dengan total potensi penghematan sebesar Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun.
Pasar merespons kebijakan tersebut dengan positif meski tetap berhati-hati. Pasar masih menimbang apakah sinyal de-eskalasi ini akan berlanjut dan terwujud, atau justru berbalik arah.
Jika melihat pergerakan di pasar NDF, serta pelemahan indeks dolar AS yang kembali di bawah 100, ruang penguatan bagi rupiah di pasar spot bisa terbuka lantaran terkerek sentimen apresiasi terhadap mata uang di kawasan.
Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.950/US$ hingga Rp17.000/US$, dengan kecenderungan menguat tipis jika sentimen global tetap kondusif.
Penguatan rupiah cenderung terbatas karena tertahan struktur eksternal Indonesia yang belum sepenuhnya kuat. Dengan harga minyak masih di atas US$104 per barel, seperti ditunjukkan data realtime Bloomberg, maka risiko pelebaran defisit transaksi berjalan masih membayangi.
Hari ini pasar akan mencermati data neraca perdagangan serta capaian ekspor dan impor. Jika sesuai ekspektasi pasar dan efek perang tidak tercermin secara signifikan, setidaknya rupiah punya katalis tambahan untuk memperkokoh penguatan terbatasnya di pasar spot nanti.
Analisa Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpotensi rebound pada perdagangan hari ini menuju resistance potensialnya, setelah tekanan di pasar mulai mereda.
Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance level Rp16.950/US$, dan ada kemungkinan kembali menembus Rp16.910/US$ sebagai level optimistis. Jika nantinya rupiah berhasil menguat hingga Rp16.900/US$, maka ada potensi untuk melanjutkan tren penguatan hingga Rp16.860/US$.
Namun rupiah memiliki level support psikologis di level Rp17.000/US$. Apabila level ini berhasil break, maka mengonfirmasi laju support selanjutnya di Rp17.200/US$.
(riset/aji)































