Perang ini membuat harga minyak membumbung tinggi. Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent meroket 43,38%.
Alhasil, dunia dihantui risiko kenaikan harga energi. Inflasi diperkirakan akan melonjak sehingga membuat ban sentral di berbagai negara kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Prospek penurunan suku bunga acuan yang makin samar-samar membuat emas jadi kurang menarik. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) yang bersinar kala suku bunga rendah.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk April? Apakah bulan ini harga akan turun lagi atau bisa bangkit berdiri?
Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame). emas masih bertahan di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 75.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun kalau sudah di atas 70, maka artinya sudah jenuh beli (overbought).
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 0. Paling rendah, sudah sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan bulan ini, harga emas berpotensi naik. Cermati pivot point di US$ 4.738/troy ons.
Dari situ, harga emas berpeluang menguji resisten US$ 4.772/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5. Resisten lanjutan ada di level US$ 4.817-5.377/troy ons.
Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 6.698/troy ons.
Namun seandainya harga emas malah turun lagi, maka US$ 4.575/troy ons rasanya menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke rentang US$ 4.234-3.737/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh adalah US$ 2.0715/troy ons.
(aji)






























