“Jadi, insyallah enggak perlu ada keraguan lagi untuk mengganti dari Middle East, sudah kita dapat,” kata Bahlil.
Ihwal sumber impor LPG, Bahlil menyatakan pemerintah sudah mendorong agar dilakukan dari negara-negara lain seperti di Amerika Serikat (AS).
“Jadi secara pasokan, insyallah mohon doanya clear, enggak ada masalah,” jelas dia.
Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan fasilitas Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan dapat menghasilkan bensin sekitar 5,6 juta kiloliter (kl), sementara solar sebesar 4,5 juta kl.
Untuk itu, dia menyatakan komposisi impor ke depan bakal lebih banyak dalam komoditas minyak mentah, dibandingkan dengan produk olahan seperti BBM.
“Sementara yang untuk BBM yang RON 90, 95, 98 dan 93 [92], sebagian kita produksi di dalam negeri, sebagian kita impor dari negara Asia Tenggara,” tuturnya.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, AS, dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
(azr/wdh)




























