Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp14,97 triliun dari sejumlah 27,26 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi yang terjadi 1,74 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 262 saham, dan sebanyak–banyaknya 406 saham terjadi pelemahan. Sisanya 151 saham stagnan.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini, ditambah lagi pelemahan saham BREN, saham BYAN, hingga saham SMMA yang amat dalam. Saham transportasi, saham energi, dan saham teknologi juga melemah masing–masing 4,59%, 2,74% dan juga 1,31%.

Saham–saham big caps lain turut jadi pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers,

  1. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 8,35 poin
  2. Bayan Resources (BYAN) mengurangi 6,4 poin
  3. Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 5,24 poin
  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 4,73 poin
  5. Astra International (ASII) mengurangi 4,1 poin
  6. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 3,1 poin
  7. Bank Negara Indonesia  (BBNI) mengurangi 2,94 poin
  8. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 2,82 poin
  9. Sinar Mas Multiartha (SMMA) mengurangi 2,71 poin
  10. Energi Mega Persada (ENRG) mengurangi 2,65 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi penyebab pelemahan IHSG, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang turun 5,44%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) amblas 4,42%, dan juga saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melemah 4,38%.

Senada, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) drop 3,69%, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melemah 3,43%. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpeleset 2,69% hingga menjadi pemberat IHSG.

Kinerja Bursa Asia juga melaju di zona merah. Indeks KOSDAQ Korea Selatan jatuh 4,94%, KOSPI Korea Selatan amblas 4,26%, TAIEX Taiwan drop 2,45%, SENSEX India turun 2,22%, Shenzhen Comp. terdepresiasi 1,71%, NIKKEI 225 melemah 1,58%, TOPIX Jepang amblas 1,26%, CSI 300 China terpeleset 0,93%, Shanghai Comp. China drop 0,8%, FTSE Straits Times Singapura terpeleset 0,24%, dan SETI Thailand merah 0,1%.

Bursa Saham Asia turun setelah komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu volatilitas di pasar minyak dunia. 

Menyitir The Wall Street Journal (WSJ), Presiden Trump sedang mencari cara untuk mencegah konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, dikabarkan dari para orang–orang di sekitarnya, ia bersedia menyudahi serangan militer AS terhadap Iran meskipun jika Selat Hormuz sebagian besar tetap ditutup.

Menurut WSJ, Trump menilai operasi yang bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat memperpanjang konflik melebihi jangka waktu yang diperkirakan hingga enam minggu.

“Lonjakan harga minyak mentah dan konflik di Timur Tengah yang masih berkecamuk membuat investor tetap bersikap waspada,” mengutip paparan Phillip Sekuritas Indonesia dalam riset terbaru yang diterbitkannya, Selasa.

Terlebih lagi, pasar masih berfluktuatif utamanya dipengaruhi oleh berita-berita terkini mengenai situasi di Timur Tengah. Terbaru, Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak Kuwait di dekat pelabuhan Dubai, yang menunjukkan meningkatnya risiko bagi pelayaran di Teluk Persia. 

“Harga energi dan komoditas yang berpotensi tetap tertekan membuat ekspektasi inflasi di regional Asia cenderung naik, memicu narasi pengetatan moneter pada regional tersebut,” sebut Panin Sekuritas.

Ketidakpastian seputar upaya diplomatik untuk menyudahi perang di Iran hingga membuat premi risiko tetap tinggi sampai dengan saat ini.

(fad)

No more pages