Logo Bloomberg Technoz

Ada juga beberapa kapal yang dialihkan sinyalnya ke Assaluyeh dan pelabuhan Iran lainnya yang memicu risiko pelanggaran kepatuhan bagi perusahaan asuransi hingga penyedia layanan kelautan lainnya.

Gangguan sinyal lokasi yang salah ini menciptakan masalah besar di perairan yang padat. Di mana navigasi yang tepat sangat penting untuk menghindari tabrakan dan kepatuhan lalu lintas perairan. Akibatnya, transit kapal melambat karena kapal tanker yang berafiliasi dengan Barat ada yang berhenti atau berbalik arah.

Sekitar 20% dari ekspor minyak dan gas dunia melewati lokasi tersebut. Sedangkan kapal tanker menyumbang sekitar 60% dari lalu lintas, kapal curah hampir 17% dari transit, dan kapal kontainer 16% melewati perairan tersebut, berdasarkan laporan PortWatch IMF.

Sementara itu, Gcaptain melaporkan insiden GPS jamming menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan maritim di salah satu saluran pengiriman paling kritis dunia. Menurut Maritime Information Cooperation & Awareness Center (MICA), sekitar 970 kapal per hari mengalami gangguan GPS di wilayah tersebut.

Seatrade Maritime News menyebut, Iran telah mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggapnya bersahabat melalui Selat Hormuz termasuk Cina dan India. Kesepakatan untuk mengizinkan kapal yang ditandai dengan Thailand, Malaysia, dan Spanyol juga telah diumumkan.

Iran mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang dilaporkan sebesar US$2 juta untuk transit di selat yang aman dan dibayar dalam mata uang Yuan Tiongkok atau mata uang kripto. Kapal-kapal ini nantinya akan diizinkan lewat dengan aman, Iran menilai berbagai faktor termasuk asal dan tujuan kargo dan bukan hanya kepemilikan dan bendera.

Pada tanggal 27 Maret dua kapal kontainer Cosco Shipping yang berbendera di Hong Kong berbalik kembali ke Teluk saat mereka mendekati Selat Hormuz atas perintah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC).

(wep)

No more pages