Seiring perkembangan konflik, mandat UNIFIL diperluas terutama setelah perang Israel-Hizbullah pada 2006. Saat ini, UNIFIL bertugas memantau penghentian permusuhan, mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon, serta membantu memastikan akses kemanusiaan bagi warga sipil di wilayah konflik.
Selain itu, pasukan UNIFIL juga melakukan patroli darat dan laut, mengawasi pelanggaran garis gencatan senjata yang dikenal sebagai Blue Line, serta membantu menciptakan stabilitas keamanan di sepanjang perbatasan Lebanon dan Israel.
Mandat UNIFIL
Berdasarkan mandat terbaru Dewan Keamanan PBB, tugas utama UNIFIL mencakup:
- Memantau penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah
- Mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon dalam menjaga stabilitas wilayah
- Membantu memastikan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil
- Mengawasi pelanggaran wilayah udara dan darat di sepanjang Blue Line
- Membantu menciptakan lingkungan yang aman bagi warga sipil
Mandat tersebut menjadikan UNIFIL sebagai salah satu misi penjaga perdamaian paling kompleks karena beroperasi di wilayah konflik aktif dengan risiko tinggi.
Peran Indonesia dalam UNIFIL
Indonesia memiliki hubungan historis dan emosional yang kuat dengan misi perdamaian di Lebanon. Sejak tahun 2006, Indonesia secara konsisten mengirimkan ribuan personel dan menjadi salah satu negara kontributor pasukan terbesar bagi UNIFIL.
Menanggapi gugurnya para prajurit, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemenhan RI Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa pemerintah tetap memegang teguh komitmen perdamaian meskipun risiko di lapangan semakin ekstrem.
"Hingga saat ini, tidak ada kebijakan untuk menarik pasukan TNI dari misi UNIFIL. Indonesia tetap berkomitmen mendukung misi perdamaian dunia di bawah mandat PBB dengan tetap mengutamakan keselamatan personel," tegas Rico saat dihubungi pada Selasa (31/3).
Rico menambahkan bahwa penyebab pasti insiden tersebut masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL. "Kami tidak dalam posisi untuk menyimpulkan pihak tertentu sebagai pelaku. Insiden terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di wilayah tersebut," jelasnya.
Kecaman Internasional dan Tekanan Diplomatik
Gugurnya para penjaga perdamaian memicu kemarahan global. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras insiden yang membahayakan keselamatan personel PBB. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot secara terang-terangan menyalahkan militer Israel atas intimidasi terhadap personel PBB dan menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan.
Di sisi lain, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon melemparkan tanggung jawab kepada Hizbullah yang dianggap mengubah wilayah sipil menjadi medan perang.
Hingga saat ini, lebih dari 1.200 orang telah tewas di Lebanon Selatan dan lebih dari 1 juta orang terpaksa mengungsi.
(del/roy)





























