Menariknya lanjut Faisal, emas yang rutin menjadi penyebab inflasi malah menjadi yang menghambat. Harga emas dunia di pasar spot jatuh lebih dari 14% dalam sebulan terakhir, yang tentu mempengaruhi harga emas perhiasan.
Inflasi Tahunan
Sementara itu, konsensus Bloomberg yang melibatkan 25 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi inflasi Maret secara tahunan (year-on-year/yoy) ada di 3,64%. Jika terwujud, lagi-lagi, maka lebih rendah ketimbang Februari yang sebesar 4,76% yoy.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Mast Henderson mengemukakan, inflasi tahunan mengalami normalisasi setelah lonjakan pada Januari dan Februari. Pada dua bulan pertama 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik. Diskon itu kemudian menciptakan efek basis rendah (low base effect) sehingga membuat inflasi Januari dan Februari tahun ini membumbung tinggi.
Meski begitu, seperti halnya inflasi bulanan, inflasi tahunan masih berada di level yang relatif tinggi. Menurut Henderson, ini akibat tekanan peningkatan permintaan pada musim Ramadan-Idul Fitri.
“Ke depan, risiko inflasi bisa melampaui target 1,5-3,5% pada tahun ini akan semakin tinggi jika perang di Iran terus berkecamuk,” sebut Henderson.
Adapun untuk inflasi inti, konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi 2,64% yoy. Sedikit terakselerasi dibandingkan Februari yaitu 2,63% yoy.
“Inflasi inti diperkirakan stabil, sejalan dengan pola musiman Ramadan-Idul Fitri yang mendongkrak permintaan. Penurunan harga emas membantu meredam laju inflasi inti,” imbuh Faisal.
(aji)






























