"Proyeksi ini bergantung pada asumsi teknis bahwa tingkat gangguan pasar energi saat ini akan mereda seiring waktu, dengan harga minyak, gas, dan pupuk menurun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026 dan seterusnya," tulis OECD dalam laporannya dikutip Senin (30/3/2026).
OECD menekankan bahwa eskalasi yang terus meningkat di Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu menyebabkan guncangan harga energi dan pupuk yang lebih tinggi. Akibatnya, inflasi global meningkatkan dan tingkat permintaan global tertekan.
Ketidakpastian geopolitik itu pun diperkirakan akan menahan daya ungkit dari momentum kuatnya produksi dan investasi yang berkaitan dengan teknologi, kebijakan moneter dan fiskal yang suportif, serta tingkat tarif efektif yang lebih rendah dari asumsi sebelumnya.
Meski inflasi diperkirakan naik, bank sentral diperkirakan akan tetap menjaga suku bunga di tingkat moderat. Keputusan Bank Indonesia (BI), termasuk suku bunga acuan, ke depan dinilai masih seimbang untuk meminimalkan risiko volatilitas mata uang dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Di sisi lain, OECD juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5% menjadi 4,8% untuk 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,8% pada 2026.
Begitu juga untuk pertumbuhan pada 2027 yang direvisi turun menjadi 5% dari 5,1%, berdasarkan prakiraan sebelumnya pada Desember 2025.
Proyeksi ekonomi pada 2026 dari OECD tersebut juga lebih rendah dari APBN 2026 yang ditargetkan mencapai 5,4%.
(lav)































