Koreksi harga emas datang akibat perang di Timur Tengah yang tidak kunjung berakhir. Perang justru makin intensif dengan kelompok Houthi yang menyatakan resmi masuk gelanggang.
Sejak perang dimulai, harga emas sudah rontok sekitar 15%. Kenaikan harga minyak membuat inflasi terancam membumbung tinggi, sehingga bank sentral di berbagai negara akan kesulitan untuk menurunkan suku bunga acuan. Bahkan bisa saja akan ada kenaikan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
Selain itu, perang juga menciptakan risiko di pasar keuangan. Mata uang berbagai negara (terutama negara-negara berkembang) mengalami tekanan sehingga bank sentral harus turun tangan menjadi ‘pemadam kebakaran’.
Aksi intervensi untuk stabilisasi mata uang tentu butuh modal. Jadi sangat mungkin bank sentral akan melepas cadangan emas mereka demi mendapat dana segar untuk stabilisasi nilai tukar.
Padahal setidaknya dalam dua tahun terakhir, aksi borong oleh bank sentral menjadi salah satu faktor penting yang mendongkrak harga emas. Ketika yang terjadi adalah sebaliknya, maka harga emas pun anjlok.
“Harga emas bisa tetap rentan. Pelepasan oleh bank sentral dan reposisi investor menjadi risiko,” sebut Alexandre Carrier, Portfolio Manager di DNCA Invest Strategic Resources Fund, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
(aji)






























