Setelah berminggu-minggu bertahan di tengah volatilitas ekstrem akibat penutupan Selat Hormuz, aset-aset berisiko menunjukkan tanda-tanda menyerah. Penurunan 3,6% pada indeks S&P 500 selama Kamis dan Jumat lalu merupakan kemerosotan dua hari terburuk dalam setahun, menempatkan indeks acuan tersebut 8,8% di bawah rekor Januari. Sementara itu, Nasdaq 100 merosot 4,3% dalam dua hari, menyeretnya ke wilayah koreksi sebesar 10%.
Kekhawatiran inflasi juga memukul pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil (yield) melonjak, menempatkan US Treasury di jalur bulan terburuknya sejak Oktober 2024. Para pelaku pasar kini menilai ulang ekspektasi kebijakan moneter. Pasar tidak lagi melihat adanya peluang pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) tahun ini, bahkan beberapa investor mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum tahun berakhir.
Di pasar kripto, Bitcoin jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga minggu seiring sikap defensif para pedagang. Bitcoin sempat anjlok 5% ke level US$65.522 pada hari Jumat, terendah sejak awal Maret, dan diperdagangkan di kisaran US$66.000 pada Senin pagi di Asia.
“Perilaku pasar mencerminkan pergeseran jelas menuju perlindungan modal,” tulis Wee Khoon Chong, analis senior di BNY Hong Kong, dalam catatan kepada klien. “Aset yang sebelumnya berkinerja unggul kini semakin rentan terhadap aksi ambil untung dan pelepasan posisi. Namun aliran dana kemungkinan tidak akan beralih signifikan ke pendapatan tetap,” tulisnya, mengingat tekanan inflasi yang meningkat.
Harga minyak berpotensi mencapai rekor US$200 per barel jika perang Iran berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap tertutup, menurut Macquarie Group Ltd. Konflik yang berlangsung hingga kuartal kedua akan menghasilkan harga riil tertinggi sepanjang sejarah, kata analis termasuk Vikas Dwivedi dalam catatan yang menguraikan skenario dengan peluang 40%. Sementara skenario alternatif dengan probabilitas 60% menunjukkan perang bisa berakhir pada akhir bulan ini.
Hampir tidak ada strategi defensif standar yang berhasil menahan penurunan pasar akibat kenaikan harga energi dan dampaknya terhadap ekspektasi inflasi. Setidaknya tiga dari empat kelas aset utama dalam portofolio terdiversifikasi turun bersamaan selama empat pekan berturut-turut, menyamai periode terpanjang sejak Mei 2022.
Indikator Bloomberg yang melacak portofolio global terdiversifikasi — 60% saham dan 40% pendapatan tetap — turun 6,3% bulan ini, menjadi kinerja terburuk sejak September 2022.
Meski perkembangan akhir pekan “akan memperumit situasi,” penutupan pasar pada Jumat terasa seperti “titik tekanan puncak untuk saat ini,” kata Mark Malek, Chief Investment Officer di Muriel Siebert & Co. Kondisi itu dapat mendorong sebagian investor mulai mencari peluang masuk kembali.
“Trader paling berani jelas mulai mencari peluang beli,” katanya. “Banyak dari mereka menunggu apa yang disebut aksi jual ritel besar dan bertanya-tanya apakah Jumat lalu adalah momen tersebut. Saya sendiri akan tetap menunggu.”
Beberapa pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,6% pada pukul 08.20 waktu Tokyo
- Kontrak berjangka Hang Seng turun 0,9%
- Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1%
Mata Uang
- Indeks Dolar Bloomberg naik 0,1%
- Euro turun 0,1% menjadi US$1,1493
- Yen Jepang relatif stabil di 160,37 per dolar
- Yuan offshore relatif stabil di 6,9209 per dolar
- Dolar Australia turun 0,3% menjadi US$0,6852
Kripto
- Bitcoin turun 0,7% menjadi US$66.084,48
- Ether turun 0,8% menjadi US$1.985,13
Obligasi
- Imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun relatif stabil di 5,10%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,7% menjadi US$102,35 per barel
- Emas spot turun 0,4% menjadi US$4.476,44 per ons
Laporan ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)
































