Bahkan Filipina telah mengumumkan status darurat energi beberapa hari lalu. Negara ini menjadi yang paling rentan di kawasan, dengan kinerja mata uang yang paling buruk sejak perang pecah dan menganggu pasokan minyak.
Dari domestik, rencana efisiensi yang diajukan oleh Kementerian Keuangan dan Badan Gizi Nasional dengan total senilai Rp120 triliun sedikit memberi angin segar, meski belum diketok palu oleh Presiden Prabowo Subianto.
Jika penghematan ini benar-benar dieksekusi, maka dapat menjadi sinyal disiplin fiskal yang dinantikan oleh pelaku pasar di tengah kondisi global yang saat ini semakin penuh ketidakpastian.
Dari sisi moneter, ruang pelonggaran oleh Bank Indonesia (BI) praktis makin terbatas. Dengan potensi tekanan inflasi makin tinggi akibat imported inflation karena kenaikan harga minyak, serta volatilitas rupiah yang masih tinggi, BI kemungkinan akan terus mengedepankan stabilitas dibanding pelonggaran.
(dsp/aji)



























