Juru bicara Gedung Putih Kush Desai menyebut laporan tersebut “tidak benar,” dan menegaskan, “meski pemerintah selalu mengevaluasi berbagai skenario harga dan dampak ekonomi, para pejabat tidak sedang mengkaji kemungkinan harga minyak mencapai US$200 per barel dan Menteri Bessent tidak ‘khawatir’ tentang gangguan jangka pendek akibat Operasi Epic Fury.”
Bessent, katanya, telah berulang kali “menyampaikan keyakinan, baik dari dirinya maupun pemerintah, terhadap arah jangka panjang ekonomi Amerika dan pasar energi global.”
Harga minyak melonjak sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, dengan harga West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 30% menjadi $91 per barel. Minyak mentah Brent naik hampir 40% dalam periode yang sama, diperdagangkan sekitar US$102.
Gedung Putih mengatakan pada Rabu bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih berlangsung meskipun Iran secara terbuka menolak dorongan Presiden Donald Trump untuk melakukan pembicaraan dan mengancam akan mengambil tindakan militer lebih lanjut jika tidak tercapai kesepakatan. Senin lalu, Trump menetapkan batas waktu lima hari bagi Iran untuk menegosiasikan kesepakatan guna mengakhiri perang.
Pemerintah merencanakan agar operasi militer tersebut berlangsung selama 4-6 minggu, demikian pernyataan Gedung Putih. Menteri Energi Chris Wright mengatakan pada 12 Maret bahwa lonjakan harga hingga US$200 per barel “tidak mungkin terjadi.”
Harga minyak mentah US$200 akan menjadi guncangan besar bagi perekonomian global. Harga tersebut hanya pernah mencapai level tersebut sekali dalam setengah abad terakhir — pada 2008, tepat sebelum krisis keuangan global.
Bahkan pada level yang lebih rendah, Bloomberg Economics memperkirakan bahwa harga minyak US$170 per barel selama beberapa bulan akan mendorong inflasi lebih tinggi di AS dan Eropa serta memangkas pertumbuhan ekonomi.
Trump mengatakan dia tidak khawatir tentang kenaikan biaya energi, bahkan menyarankan bahwa hal itu menguntungkan AS, dan memprediksi bahwa harga minyak akan turun tajam begitu perang berakhir.
Namun, penghentian hampir total pengiriman melalui Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut hingga seperlima ekspor minyak dan gas global, telah memukul perekonomian di seluruh dunia.
Kepala Bank Sentral Eropa Christine Lagarde pekan lalu mengatakan, konflik tersebut telah memicu risiko inflasi. Deretan rekannya di Frankfurt, London, dan Jepang bersiap untuk menaikkan suku bunga secepatnya bulan depan.
Di AS, dampak yang paling terlihat adalah kenaikan harga bensin eceran sebesar 30%, yang menghapus penurunan selama setahun terakhir yang pernah dipuji Trump sebagai pencapaian ekonomi utama.
Prospek kebijakan moneter AS juga semakin tidak jelas seiring dengan upaya Federal Reserve memantau dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi. Pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak lonjakan harga minyak terhadap perekonomian AS.
(bbn)





























