Logo Bloomberg Technoz

Kondisi ini membuat BI sebagai otoritas moneter harus menahan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret di level 4,75%, meski ada tekanan dari otoritas fiskal untuk membantu mendongkrak pertumbuhan. 

Kawasan Asia Bertahan

Kondisi serupa juga terlihat di Filipina yang sempat berada di jalur pelonggaran sebesar 25 basis poin bulan Februari lalu, kini berpotensi berbalik arah. Sebenarnya, Banko Sentral ng Pilipinas (BSP) masih memiliki ruang untuk bermanuver. Tapi lonjakan harga minyak membuat peso terdepresiasi cukup dalam sepanjang tahun ini sebesar 1,93%. Harga minyak yang melonjak ini juga meningkatkan tekanan inflasi terutama bagi kelompok berpendapatan rendah. Fokus kebijakan otoritas moneter Filipina pun bergeser dari pertumbuhan ke stabilitas harga.

Di Malaysia, ruang kebijakan masih relatif longgar, setidaknya untuk saat ini. Inflasi tercatat rendah dan penguatan ringgit masih memberikan bantalan. Ringgit menjadi satu dari tiga mata uang Asia yang menguat sepanjang tahun ini dan memimpin penguatan sebesar 2,68%. 

Sementara itu, Singapura justru menghadapi risiko dari sisi permintaan. Sebagai safe haven, negara ini berpotensi menerima limpahan aktivitas ekonomi global. Dalam konteks ini, otoritas moneter kemungkinan akan memperketat kebijakan, bahkan sebelum jadwal resmi. 

Korea Selatan dan Thailand menunjukkan pendekatan yang berbeda.

Bank of Korea memilih menjaga fleksibilitas di tengah ketidakpastian. Pada 26 Februari, bank sentral Korea telah mempertahankan suku bunga 2,5% dan diproyeksikan akan tetap mempertahankannya sepanjang 2026, terutama jika harga minyak mentah masih berada di atas US$80 per barel. Namun, jika harga minyak mendekati US$100 per barel, bank sentral Korea diperkirakan akan menaikkan suku bunga jika skenario terburuk terjadi, setidaknya pada kuartal I tahun depan. 

Sebaliknya, Bank of Thailand cenderung menahan suku bunga dalam periode yang cukup panjang setelah pemangkasan pada Februari. Bank sentral Thailand telah memangkas suku bunga 125 basis poin sejak awal tahun 2025. 

Selain itu, perang Iran juga membuat nilai tukar baht melemah. Baht tercatat melemah 3,48% sejak awal tahun 2026, dan menjadi yang terlemah di pasar mata uang Asia sejak perang pecah dengan pelemahan 4,9%. Dengan begitu, bank sentral Thailand kemungkinan akan tetap menahan suku bunga acuannya demi menjaga nilai tukar mata uangnya dari goncangan inflasi. 

Di sisi lain, India justru menghadapi risiko stagflasi dibandingkan negara lain di kawasan. Kenaikan harga energi, gangguan pasokan, dan tekanan inflasi datang bersamaan dengan potensi perlambatan ekonomi. Inflasi India tercatat naik menjadi 3,2% pada Februari. Bank sentral India diproyekksikan dapat melakukan pengetatan dengan menaikkan suku bunga jika guncangan energi berlanjut dan merembet ke inflasi inti. 

Berbeda dengan negara lain di kawasan, China justru masih berada di dalam jalur pelonggaran, meski ruang geraknya semakin sempit. Sebab, kenaikan harga minyak dan pengaruhnya terhadap suku bunga global membuat bank sentral China harus memasang mode hati-hati agar tidak memicu tekanan lebih lanjut terhadap yuan. 

Di kawasan, pelemahan yuan relatif terbatas jika dibandingkan negara lainnya. yuan tercatat hanya melemah 0,4%, dengan masing-masing CNY 0,43% dan CNH 0,47%, sejak perang pecah di Timur Tengah. Sedangkan jika ditarik lebih jauh sejak awal tahun, yuan justru menguat, CNH 1,19% dan CNY 1,4%. 

Dunia yang Semakin Hawkish

Bank sentral di negara maju juga mulai mempertimbangkan kebijakan hawkish.

Seperti Bank of England (BOE) yang menahan suku bunga pada pertemuan Kamis lalu (19/3/2026) dan menetapkan suku bunga di level 3,75%. Konflik AS-Israel terhadap Iran membuat bank sentral Inggris waspada terhadap kemungkinan efek rambatan yang membuat inflasi tetap melambung tinggi, seperti saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu. 

Menurut sebagian ekonom, jika perang berlanjut lebih lama dan mendorong kenaikan harga energi terus menerus, BOE diperkirakan akan mengambil langkah hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan. Kondisi ini menjadi tekanan bagi Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves. Sebab, risiko kehilangan pekerjaan semakin meningkat, serta suku bunga kredit perubahan berpotensi mengalami kenaikan. 

Senada dengan Inggris, di Eropa bank sentral Eropa (ECB) juga lebih sensitif terhadap potensi lonjakan inflasi. Pengalaman akibat perang antara Rusia dan Ukraina membuat bank sentral kawasan ini kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama. 

Dewan Gubernur ECB, Boris Vujcic yang akan menjadi wakil presiden ECB pada Juni mendatang, mengatakan pejabat otoritas moneter Eropa sedang mengkaji apakah dampak konflik AS-Iran membuat ECB hawkish. 

Namun, dalam pernyataannya seperti dikutip Bloomberg News, Vujcic memperingatkan bahwa perkembangkan terbaru semakin mengarah pada meningkatnya risiko inflasi yang tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang lemah.  

"Kami belum melihat stagfalsi, tetapi risikonya bergerak ke arah stagflasi. Seberapa jauh kita akan menuju ke arah itu, sangat sulit diprediksi." ujar Vujcic seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (24/3/2026). 

Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah membuat Jepang mengurangi stimulus lebih cepat, dengan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Meski begitu, Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda mengindikasikan kenaikan suku bunga pada pertemuan April masih menjadi opsi, pelaku pasar memperkirakan Jepang berpeluang mengambil langkah hawkish sebesar 63%. 

Begitu juga dengan bank sentral AS, meski masih membuka ruang satu kali pemangkasan, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) secara keseluruhan justru semakin hawkish. Perang AS terhadap Iran meningkatkan kebutuhan belanja pemerintah, sekaligus mengaburkan prospek pertumbuhan. Setidaknya, Pentagon telah meminta tambahan dana sebesar US$200 miliar untuk membiayai konflik ini. 

Di saat yang sama, lonjakan harga minyak meningkatkan tekanan inflasi dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed. 

"Putusan tarif dan perang sama-sama memperburuk jalur fiskal yang sudah sangat rapuh. Pendapatan pemerintah akan berkurang, dan tidak jelas apakah tarif pengganti dapat menutup kekurangan tersebut. Sementara perang jelas akan memperbesar biaya yang dikeluarkan," kata Maya MacGuneas, anggota Komite Responsible Federal Budget, seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (24/3/2026).

Dalam jangka panjang, tekanan fiskal AS sebenarnya tak cuma datang dari perang atau kebijakan tarif, tapi juga faktor struktural seperti belanja program jaminan sosial dan kesehatan. Tingginya angka pertumbuhan populasi penduduk tua membuat pengeluaran untuk Social Security dan Medicare meningkat, sementara suku bunga tinggi membuat biaya pembayaran utang makin meningkat. 

Suku bunga acuan negara-negara kawasan Asia dan negara maju. (Diolah dari Bloomberg)

Harapan Pelonggaran Makin Pupus

Kondisi ekonomi global saat ini membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama (higher for longer). Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mengerek laju inflasi, alhasil bank sentral harus mengambil sikap ekstra hati-hati di masa sekarang ini. 

Di Asia, banyak bank sentral memilih menahan suku bunga, meski itu artinya potensi pertumbuhan juga ikut tertahan. Bukan lantaran kondisi ekonomi baik-baik saja, tapi karena tak punya banyak pilihan dan ruang kebijakan moneter. 

Sementara itu, negara-negara maju justru cenderung lebih ketat. Jika sebelumnya bank sentral berlomba-lomba mendukung pertumbuhan melalui suku bunga rendah, sekarang prioritasnya berbalik, yaitu menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan biaya energi. 

(dsp/aji)

No more pages