Logo Bloomberg Technoz

Para trader mencermati setiap perkembangan geopolitik untuk mencari petunjuk tentang berapa lama perang di Iran akan berlangsung dan apakah ketegangan akan terus meningkat dari titik ini.

Tiga minggu konflik telah mengacaukan seluruh rantai pasokan energi. Dengan Selat Hormuz yang hampir tertutup, harga bensin dan bahan bakar jet melonjak, kekurangan gas untuk memasak memicu perkelahian di India, dan para petani khawatir soal diesel serta pupuk.

“Semua pergerakan jangka pendek bergantung pada pembukaan Selat tersebut,” kata Scott Wren di Wells Fargo Investment Institute. “Kami memperkirakan selat itu akan terbuka dalam hitungan minggu, bukan bulan.”

Menteri Keuangan Scott Bessent mencatat bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi yang telah lama diberlakukan terhadap minyak Iran sebagai upaya menekan lonjakan harga energi akibat perang. Gedung Putih tidak berencana melarang ekspor minyak dan gas, kata seorang pejabat pemerintahan Trump pada Kamis.

Durasi harga minyak yang masih tinggi adalah hal yang sedang dicari jawabannya oleh pasar, dan itulah sebabnya volatilitas terjadi, kata Dennis Follmer di Montis Financial.

Wall Street bersiap menghadapi jumlah besar opsi yang akan jatuh tempo pada Jumat, yang berisiko memicu volatilitas lebih lanjut. Sekitar $5,7 triliun opsi nosional yang terkait dengan saham individu AS, indeks, dan exchange-traded funds akan jatuh tempo, menurut Citigroup Inc., dalam peristiwa triwulanan “triple-witching”.

Stocks Pare Losses as Oil Rally Fades. (Sumber: Bloomberg)

Iran tetap melanjutkan serangan terhadap aset energi bahkan setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan penahanan diri. Investor yang terlalu percaya diri dan menganggap perang akan segera berakhir sedang mengambil risiko tinggi, mengingat lonjakan harga minyak biasanya berdampak buruk bagi saham, menurut Dubravko Lakos-Bujas dari JPMorgan Chase & Co..

“Meskipun hasil yang kurang merusak di Selat Hormuz masih mungkin terjadi, peristiwa terbaru telah mempersempit peluang tersebut dan meningkatkan risiko volatilitas berlanjut,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management.

Meskipun indeks S&P 500 menguat menjelang penutupan, indeks tersebut tidak mampu berakhir di atas level penting rata-rata pergerakan 200 hari.

Sentimen kemungkinan masih cenderung negatif, dengan potensi penurunan lanjutan, menurut Wren dari Wells Fargo Investment Institute.

“Kami melihat koreksi di kisaran 7–10% dari rekor tertinggi sebagai peluang yang baik untuk mulai masuk,” pungkasnya.

Beberapa pergerakan utama di pasar:

Saham

  • Indeks S&P 500 turun 0,3% pada pukul 16.00 waktu New York
  • Nasdaq 100 turun 0,3%
  • Dow Jones Industrial Average turun 0,4%
  • MSCI World Index turun 0,7%

Mata uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,7%
  • Euro naik 1,2% menjadi US$1,1586
  • Poundsterling Inggris naik 1,3% menjadi US$1,3432
  • Yen Jepang naik 1,4% menjadi 157,64 per dolar

Kripto

  • Bitcoin turun 1,3% menjadi US$70.278,74
  • Ether turun 2% menjadi US$2.142,87

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun (Treasuries) relatif stabil di 4,26%
  • Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 2,96%
  • Imbal hasil obligasi Inggris tenor 10 tahun naik 11 basis poin menjadi 4,84%

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,3% menjadi US$95,10 per barel
  • Emas spot turun 3,5% menjadi US$4.651,07 per ounce

(bbn)

No more pages