Logo Bloomberg Technoz

Dibidik Bahlil Buat Gantikan LPG, Transisi ke CNG Tak Bisa Instan

Dovana Hasiana
04 May 2026 15:10

Sebuah tangki CNG terletak di dekat sebuah bus milik pemerintah daerah di fasilitas Montgomery County Fleet Management Services di AS./Bloomberg
Sebuah tangki CNG terletak di dekat sebuah bus milik pemerintah daerah di fasilitas Montgomery County Fleet Management Services di AS./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktisi senior industri migas Hadi Ismoyo membeberkan pengembangan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) di Indonesia tidak bisa gegabah, kendati pemerintah ingin memasifkannya untuk substitusi impor gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG).

Hadi, yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), menggarisbawahi CNG merupakan bentuk gas alam yang dikompresi pada tekanan tinggi, yakni sekitar 250 bar.

Dengan demikian, pemerintah harus menyiapkan prosedur kesehatan, keselamatan dan lingkungan atau health, safety and environment (HSE) dengan baik.


Hal ini wajib dilakukan agar konsumen memiliki pemahaman yang baik tentang penggunaan CNG dengan aman.

"Perlu dilakukan sertifikasi khusus terkait dengan tabung CNG mini pengganti LPG 3 kilogram agar layak pakai. Sosialisasi yang menyeluruh kepada semua pengguna tabung CNG mini agar mereka terbiasa dengan penggunaannya. Pasang dan pakai dengan kompor yang sudah ada, perlakukan dan tabung CNG mini dalam lingkungan sehari hari," ujar Hadi saat dihubungi, Senin (4/5/2026).

Saluran bahan bakar CNG terpasang pada truk selama operasi pengisian bahan bakar di Montgomery County Fleet Management Services, AS./Bloomberg