Kedua, PT Pertamina (Persero) tidak bisa serta-merta mengubah harga produk hasil pengolahan kilangnya karena sudah terikat kontrak.
Harga keekonomian produk kilang, padahal, sudah melampaui kontrak imbas bahan baku yang naik signifikan dibandingkan dengan asumsi dasar.
“Harga produk sudah dikunci dengan harga tertentu, misalnya X. Harga keekonomian seharusnya XX , di mana XX > X, karena kontrak sudah ditandatangan maka tidak serta-merta bisa diubah,” ujar Hadi, yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC).
“Sehingga akhirnya menggerus margin bahkan minus. Intinya harga minyak bergerak naik berdasarkan pasar internasional, sementara harga produk biasanya tetap [fixed price]. Kecuali produk tertentu yang back-to-back dengan harga minyak mentah, sehingga margin terjaga.”
Operasi Maksimal
Di sisi lain, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Mars Ega Legowo menyatakan perseroan mengoperasikan kilang dalam posisi maksimal. Dia menyatakan perseroan melakukan operasional dengan berorientasi pada tingkat produksi bukan pada profit kilang.
Mars Ega melaporkan stok minyak mentah di kilang perseroan mencapai 11—12 hari atau dalam kondisi normal, sedangkan produksi olahan minyak dalam kapasitas penuh yakni mencapai 1,1 juta barel per hari (bph).
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada momen Lebaran 2026, sekaligus sebagai antisipasi dampak kondisi jalur perdagangan migas global di Selat Hormuz yang mengalami penutupan.
“Nah, jadi kami mengutamakan availability sehingga kilang modenya adalah mode maksimalkan kuantitas produksi. Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta bph. Untuk pengadaan yang kita siapkan pada Januari, itu sebetulnya nanti pada Februari juga kita refill lagi, kita isi lagi. Nanti Maret kita pengadaan lagi, isi lagi,” kata Ega dalam konferensi pers Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri di Rest Area KM 57, Senin (16/3/2026).
Menurut para trader, kilang-kilang minyak di Asia kini menghadapi kerugian besar, setelah perang di Timur Tengah menyebabkan harga acuan Dubai melonjak, sehingga mengacaukan posisi lindung nilai (hedging) mereka.
Hilangnya pasokan dari Teluk Persia memicu kenaikan tajam pada harga minyak di kawasan tersebut yang menjadi acuan patokan Dubai, yang merupakan dasar penetapan harga derivatif.
Kilang biasanya mengambil short positions—taruhan yang menghasilkan keuntungan jika harga turun—pada derivatif terkait beberapa bulan sebelum membeli minyak mentah, sebagai bagian dari manajemen biaya bahan baku, kata para trader yang meminta tidak disebutkan namanya kepada Bloomberg.
-- Dengan asistensi Sultan Ibnu Affan
(dov/wdh)




























