Pembicaraan ini terjadi saat para sekutu AS di Eropa dan Asia mulai menepis tuntutan Trump untuk membantu membuka kembali selat yang menjadi jalur bagi seperlima minyak dunia tersebut. Mereka khawatir keterlibatan militer justru akan menyeret mereka lebih dalam ke dalam konflik.
Di sisi lain, Trump menyatakan rasa frustrasinya terhadap negara-negara yang tidak responsif atas seruannya untuk memulihkan lalu lintas pengiriman minyak dan gas.
"Korea Selatan mendapatkan persentase minyak dan energi yang sangat besar dari Selat itu. Seharusnya, mereka tidak hanya berterima kasih kepada kami, mereka harus membantu kami," ujar Trump. "Yang membuat saya terkejut adalah mereka tidak terlihat bersemangat untuk membantu."
Pejabat di Korsel, yang merupakan sekutu keamanan AS dan menampung sekitar 28.500 tentara Amerika, bersikap sangat hati-hati dalam mengirimkan kapal perang ke Hormuz. Pemerintah Seoul menyatakan tengah meninjau permintaan Trump tersebut.
Keengganan Seoul muncul di tengah laporan bahwa Washington mulai mengalihkan sejumlah aset pertahanan udara dari Korsel ke Timur Tengah. Hal ini terjadi justru saat Korea Utara terus meningkatkan tekanan melalui serangkaian uji coba rudal.
"Menlu Cho menyampaikan bahwa perdamaian di Timur Tengah serta navigasi yang aman dan bebas di Selat Hormuz sangat penting bagi keamanan dan ekonomi semua negara, termasuk Korea Selatan. Ia pun menyerukan konsultasi erat yang berkelanjutan," tutup pernyataan Kementerian Luar Negeri tersebut.
(bbn)




























