Logo Bloomberg Technoz

"Washington sedang menyadari seberapa banyak 'niat baik' yang telah mereka hanguskan di masa lalu," ujar Rachel Rizzo, peneliti senior dari Observer Research Foundation. "Para sekutu sudah tahu rasanya diancam AS akan keluar dari NATO atau dihantam tarif dagang yang tidak adil. Seburuk apa lagi situasi bisa berkembang bagi mereka?"

Trump masih memiliki sejumlah pengaruh untuk memperoleh bantuan, namun argumennya bahwa AS seharusnya tidak menanggung beban melindungi jalur yang sebagian besar memasok energi bagi ekonomi besar lain terbukti sulit diterima. Para menteri luar negeri Uni Eropa yang bertemu di Brussels mengatakan mereka tidak ingin memperburuk konflik. Sejumlah pemerintah juga memberi sinyal tidak berencana mengirim kapal untuk mengawal tanker melalui selat tersebut.

Trump mengklaim telah berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan memberikan skor "8 dari 10" untuk kesediaannya membantu. "Saya tidak memaksa mereka, karena sikap saya adalah, kami tidak butuh siapa pun."

Keraguan itu muncul setelah berbulan-bulan ketegangan antara Trump dan para pemimpin Eropa terkait tarif, Greenland, serta pengeluaran pertahanan anggota NATO. Belakangan, negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina juga kecewa setelah pemerintahan Trump memberikan keringanan sanksi kepada Rusia sebagai upaya menekan harga minyak.

“Ada batas berapa kali Trump bisa menggunakan ancaman tertentu sebelum ancaman itu kehilangan maknanya,” kata Rizzo. “Sekutu Eropa kini lebih kuat dan lebih mandiri sehingga tidak lagi terlalu mudah ditekan oleh kampanye tekanan AS.”

Inggris, sekutu militer terdekat AS di Eropa, mengatakan tidak akan bergabung dalam operasi melawan Iran, meskipun tetap mengizinkan AS menggunakan pangkalannya untuk menyerang lokasi rudal. Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Inggris bekerja sama dengan mitra keamanan untuk menyusun “rencana kolektif yang layak” guna membuka kembali selat tersebut.

“Kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas,” kata Starmer dalam konferensi pers di Downing Street. “Pada akhirnya kita harus membuka Selat Hormuz. Itu bukan tugas yang sederhana.”

Ilustrasi jalur selat Hormuz. (Bloomberg)

Beberapa jam kemudian, Trump melontarkan kritik keras kepada pemimpin Inggris tersebut. Ia mengatakan “sangat terkejut” ketika dua minggu lalu AS meminta dua kapal induk, tetapi Starmer “benar-benar tidak ingin melakukannya.”

“Saya tidak senang dengan Inggris,” kata Trump kepada wartawan. “Saya pikir mereka akan terlibat. Ya, mungkin. Tapi mereka seharusnya terlibat dengan penuh semangat.”

Secara terbuka, pemerintah Eropa menghindari penolakan langsung terhadap Trump. Inggris sedang menilai kemungkinan mengirim drone pencari ranjau otonom untuk mendukung upaya AS, sementara pejabat di negara seperti Polandia dan Lithuania mengatakan akan mempertimbangkan proposal tersebut jika diajukan secara resmi melalui NATO.

Namun ada pula yang bersikap lebih tegas. “Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang justru menambah ketegangan atau eskalasi,” kata Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares pada Senin di Brussels.

Sebagian pejabat menilai tambahan kapal Eropa tidak akan banyak mengubah keseimbangan militer. Kapal-kapal tersebut bisa memerlukan waktu berminggu-minggu untuk mencapai kawasan dan hanya menambah sedikit kekuatan di luar kehadiran angkatan laut AS yang sudah signifikan.

Sejumlah negara Eropa dan beberapa negara Teluk juga meragukan usulan Trump bahwa armada sekutu dapat mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz. Langkah itu dinilai terlalu berbahaya bagi awak militer maupun sipil yang bisa menjadi sasaran serangan Iran. Bahkan jika relatif aman, baik AS maupun sekutunya tidak memiliki cukup kapal untuk mengawal jumlah kapal yang cukup guna benar-benar membuka jalur pelayaran itu, kata para pejabat.

“Saya bertanya-tanya apa yang diharapkan Trump dari beberapa fregat Eropa yang bahkan Angkatan Laut AS yang sangat kuat pun tidak dapat capai sendirian di sana,” kata Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius kepada wartawan di Berlin pada Senin.

Pesan Washington yang berubah-ubah juga membuat pejabat Eropa kesulitan mengikuti. Baru pekan lalu, menurut pejabat Eropa, Trump mengatakan kepada para pemimpin Group of Seven (G-7) bahwa AS tidak membutuhkan bantuan terkait Iran dan kapal masih dapat melintasi selat dengan aman. Kini ia justru memperingatkan bahwa NATO dapat menghadapi konsekuensi jika anggotanya menolak permintaannya.

Sebagian pejabat Eropa khawatir jika selat tetap tertutup dan harga minyak terus naik, Trump bisa menyalahkan sekutu karena tidak turun tangan. Yang lain menilai Washington pada akhirnya mungkin harus membuka jalur itu sendiri atau mencari jalan diplomatik untuk meredakan konflik. Seperti dikatakan seorang pejabat secara pribadi, krisis ini sebagian besar merupakan akibat dari langkah Washington sendiri—yang berarti AS mungkin harus memimpin upaya penyelesaiannya.

Di Asia, responsnya juga tidak jauh berbeda. Trump telah mendesak negara seperti China, Jepang, dan Korsel untuk mengirim kekuatan laut membantu membuka jalur tersebut, serta mengancam menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping jika Beijing tidak membantu.

Jepang menjadi contoh mengapa Trump berharap mendapat bantuan. Negara itu memperoleh sekitar 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah dan memiliki salah satu angkatan laut paling kuat di dunia. Meski demikian, Perdana Menteri Sanae Takaichi—yang dijadwalkan bertemu Trump di Washington pekan ini—mengatakan Tokyo “belum membuat keputusan apa pun mengenai pengiriman kapal pengawal.” Permintaan tersebut juga muncul setelah periode hubungan tegang dengan Beijing, ketika Trump hanya memberikan dukungan publik terbatas kepada Tokyo saat China meningkatkan tekanannya.

Korsel menghadapi situasi serupa. Seperti Jepang, negara itu sangat bergantung pada energi Timur Tengah dan memiliki aliansi keamanan dengan Washington. Namun para pejabat di Seoul bersikap hati-hati dan mengatakan pemerintah masih meninjau permintaan Trump serta berkoordinasi dengan AS. Keraguan itu juga muncul ketika Washington memindahkan sebagian sistem pertahanan udaranya dari Korsel ke Timur Tengah.

Perang tersebut juga kontroversial di kedua negara, dan para pemimpinnya tidak nyaman mendukung “perang yang dilancarkan tanpa otorisasi PBB dan tidak secara langsung memengaruhi keamanan nasional mereka,” kata Jeremy Chan, analis senior di Eurasia Group dan mantan diplomat AS. Jepang dan Korsel juga mengatakan belum menerima permintaan resmi dari Washington untuk mengirim kapal ke kawasan.

China menghadirkan tantangan yang berbeda. Seruan Trump kepada Beijing cukup mencolok: meskipun China memiliki pengalaman patroli antipembajakan di Teluk Aden, negara itu bukan sekutu AS dan bukan pula kandidat jelas untuk bergabung dalam koalisi angkatan laut Barat.

Beijing juga memiliki hubungan dekat dengan Teheran dan sangat bergantung pada minyak Iran, sehingga kecil kemungkinan mendukung operasi militer AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China juga menghindari pertanyaan mengenai apakah Beijing akan mengirim kapal.

Pemerintah di berbagai negara kawasan juga berhati-hati agar tidak terseret dalam konflik yang terus meluas dengan tujuan yang masih belum jelas.

“Negara-negara tidak ingin terseret secara tidak perlu ke dalam situasi konflik yang dapat membahayakan pasukan dan aset mereka,” kata Dylan Loh, profesor madya di Nanyang Technological University di Singapura. “Ketiadaan tujuan akhir atau rencana yang jelas juga menjadi pertimbangan penting.”

(bbn)

No more pages