"Tetap [akan terbit], tapi mungkin Semester II lah ya. Karena sekarang masih cukup likuid lah," jelasnya.
Sebagai catatan saja, BTN berencana menghimpun dana sebesar Rp6 triliun pada tahun ini lewat dua aksi korporasi. Detailnya melalui penerbitan modal tier II senilai Rp 2 triliun serta menerbitkan obligasi sebesar Rp 4 triliun.
Pada bagian lain, terkait dengan rencana penempatan dana pemerintah ke perbankan senilai Rp100 triliun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penempatan dana ini memiliki aturan yang berbeda dengan dana yang sudah masuk ke Himbara pada September 2025.
"Nanti mungkin [ditambah] Rp100 triliun lagi yang bisa keluar masuk-keluar masuk. Artinya tidak diberikan dalam deposit yang jangka panjang, tetapi jangka lebih pendek dan fleksibel," kata Purbaya dalam media briefing dikutip Senin (9/3/2026).
Dengan skema yang lebih fleksibel, maka pemerintah dapat menarik atau menambah dana tersebut sewaktu-waktu sesuai kebutuhan likuiditas ataupun kebutuhan pembiayaan belanja negara.
Selain dengan jangka lebih pendek dan fleksibilitas yang lebih tinggi, penempatan tambahan dana pemerintah Rp100 triliun ini rencananya berasal dari anggaran belanja pemerintah yang belum digunakan.
Sementara dana Rp200 triliun sudah diperpanjang hingga September mendatang itu merupakan saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah.
"Itu dari uang kita [anggaran belanja] sendiri, yang belum dibelanjain, taruh di situ. Daripada saya taruh di BI, perbankan tidak punya akses," ucap Purbaya.
Meski begitu, Purbaya tidak menjelaskan lebih terperinci ihwal waktu penambahan dana di Himbara ini. Dia hanya menekankan, telah meminta Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Astera Primanto Bhakti untuk mengkaji realisasinya.
(lav)





























