"Meskipun pemerintah dapat mengantisipasi legalitas dari defisit fiskal 3%, lembaga rating surat utang seperti S&P, Moody's dan Fitch berperluang tidak akan mentolerir hal ini. Sovereign rating Indonesia berpotensi mengalami downgrade menjadi BBB- pada awal tahun depan atau akhir tahun ini, setelah Moody’s dan Fitch merilis laporan resmi mereka dengan outlook negatif untuk tahun ini," sebut Laporan Mega Capital Sekuritas yang disusun oleh Lionel Priyadi, Muhamad Haikal, dan Nanda Puput Rahmawati, Senin (16/3/2026).
Tekanan potensi penurunan peringkat oleh MSCI, Moody's, dan Fitch tersebut menyebabkan sentimen risk aversion menjangkiti aset di pasar keuangan domestik. Hal ini terjadi lantaran kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit. Tanpa perubahan skenario dalam anggaran APBN 2026, dalam perhitungan Kementerian Keuangan defisit dapat melebar hingga 3,6%.
Selain tekanan fiskal, pelaku pasar juga cenderung menunggu arah kebijakan bank sentral global, terutama Federal Reserve (The Fed), serta keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan berlangsung besok. Kombinasi ketidakpastian global dan sikap wait and see investor membuat pasar obligasi domestik masih berada dalam fase defensif dengan yield yang berpotensi tetap bergerak naik dalam jangka pendek.
Sebagai catatan, pada Kamis (12/3/2026), pasar obligasi telah mengalai net outflow (arus modal keluar) sebesar US$123 juta secara harian. Sepanjang pekan, arus modal keluar telah mencapai US$667,1 juta.
(dsp/aji)






























