Akhir pekan lalu, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 103,14/barel. Ini menjadi yang tertinggi sejak Juni 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
Saat harga minyak mentah naik, maka tentu pada waktunya akan ikut mengerek harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika harga BBM naik, maka inflasi pasti akan terungkit.
Ancaman inflasi tinggi membuat bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve) akan kehabisan ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Prospek penurunan suku bunga acuan menjadi makin tipis,
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini? Berapa saja target yang perlu dicermati oleh pelaku pasar?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas sudah masuk zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 48.
RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dibilang cenderung netral.
Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 9. Sudah jauh di bawah 20 yang berarti sudah sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga emas sejatinya berpeluang naik. Target resisten terdekat ada di US$ 5.060/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di US$ 5.102/troy ons bisa menjadi target berikutnya.
Cermati pivot point di US$ 4.999/troy ons. Dari sini, harga emas masih berisiko menguji support US$ 4.992-4.952/troy ons.
Target paling pesimistis atau resisten terjauh adalah US$ 4.904/troy ons.
(aji)






























