UBS sendiri sempat lama mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ADMR. Sejak 26 Agustus 2024 hingga 29 Agustus 2025, UBS konsisten memberikan rekomendasi beli dengan target harga awal di kisaran Rp1.800/saham yang kemudian direvisi menjadi Rp1.530/saham. Pada periode tersebut, harga penutupan saham ADMR bergerak dari sekitar Rp1.455/saham dan sempat turun hingga kisaran Rp790/saham sebelum kembali naik ke sekitar Rp1.005/saham.
Perubahan sikap analis terjadi pada 4 November 2025 ketika UBS menurunkan rekomendasi dari buy menjadi neutral dengan target harga Rp1.560 saat saham ADMR ditutup di level Rp1.390. Setelah downgrade tersebut, UBS tetap mempertahankan pandangan neutral terhadap ADMR.
Pada pembaruan berikutnya pada 28 Januari 2026 dan 6 Maret 2026, UBS kembali mempertahankan rekomendasi neutral namun menaikkan target harga menjadi Rp2.300/saham. Saat pembaruan terakhir pada Maret 2026, saham ADMR tercatat berada di kisaran Rp1.980/saham.
Ke depan, UBS menilai prospek ADMR masih ditopang oleh bisnis batu bara kokas serta potensi kontribusi dari proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara yang tengah dikembangkan perusahaan. Namun demikian, risiko utama tetap berasal dari potensi pelemahan harga komoditas, terutama batu bara kokas dan aluminium.
(dhf)





























