Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark

Yenny Wahid Dorong Generasi Muda Geser Hidup dari Me ke We


Yenny Wahid (Bloomberg Technoz/Andrean Kristanto)
Yenny Wahid (Bloomberg Technoz/Andrean Kristanto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ramadan menjadi momentum refleksi bagi banyak orang untuk meninjau kembali cara memandang kehidupan, termasuk soal makna kebahagiaan, ambisi, hingga tujuan hidup.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Bloomberg Technoz Podcast Ramadan Spark 2026 Episode 4, ketika Sisi Aspasia dan Winda Mizwar berbincang dengan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid.

Dalam perbincangan tersebut, Yenny menyoroti bagaimana manusia sering kali terjebak pada hubungan yang bersifat transaksional, baik dalam kehidupan sosial maupun profesional. Padahal, menurutnya, kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari materi atau pencapaian semata.

Kebahagiaan itu datang ketika ada connection, human connection,” ujar Yenny dalam diskusi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan atau keuntungan material cenderung tidak mampu memberikan kepuasan batin yang mendalam. Sebaliknya, hubungan yang dibangun melalui koneksi emosional dan sosial justru lebih berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang.

Menurut Yenny, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan dalam hal tersebut karena memiliki budaya komunal yang kuat.

Kita adalah masyarakat yang sangat komunal. Hubungan dengan teman itu penting, hubungan dengan keluarga penting. Dan di situlah kita mendapatkan kebahagiaan,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Yenny juga menyinggung fenomena hustle culture yang semakin berkembang di era modern. Ambisi dan kerja keras memang penting, namun ia menilai bahwa orientasi tersebut harus tetap diarahkan pada tujuan yang lebih luas, bukan sekadar pencapaian pribadi.

Ia mencontohkan bagaimana para ilmuwan dan tokoh besar dalam sejarah peradaban Islam bekerja keras bukan semata untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, semangat produktivitas yang benar adalah yang menghasilkan dampak positif bagi banyak orang.

Hustle culture itu boleh selama dampaknya terukur dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, Yenny melihat bahwa arah perkembangan budaya kerja ke depan berpotensi bergeser dari orientasi individual menuju kepentingan kolektif.

Hustling-nya bukan cuma sekadar untuk jadi CEO, tapi juga untuk menciptakan kebaikan,” katanya.

Ia bahkan memprediksi bahwa generasi muda akan memainkan peran penting dalam perubahan tersebut.

Anak-anak sekarang itu jauh lebih altruistik. Mereka lebih mementingkan kepentingan bersama,” ujarnya.

Meski demikian, Yenny juga mengingatkan bahwa optimisme yang tinggi tetap perlu diimbangi dengan sikap rasional. Ia menilai bahwa tahun-tahun ke depan akan dipenuhi oleh inovasi dan semangat kewirausahaan, terutama dari kalangan anak muda.

Namun di saat yang sama, sikap terlalu percaya diri juga berpotensi menimbulkan risiko, terutama dalam keputusan investasi atau bisnis.

Karena itu, menurutnya, penting bagi setiap individu untuk tetap menjaga keseimbangan dalam kehidupan.

Dalam hidup harus balance,” kata Yenny.

Di akhir perbincangan, ia juga menyinggung fenomena lain yang semakin relevan di era digital, yakni ketergantungan manusia terhadap algoritma media sosial.

Kita diperbudak oleh algoritma. Nah, kita mau merdeka atau tidak?” ujarnya.

Sebagai solusi, ia mendorong masyarakat untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih bermakna, seperti membaca buku, berkebun, atau membangun interaksi sosial yang nyata di luar dunia digital.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang refleksi terhadap cara manusia menjalani hidup di tengah perubahan zaman.

Perbincangan lengkap mengenai makna hidup, hustle culture, dan perubahan orientasi generasi muda dapat disaksikan dalam Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark 2026 Episode 4 di situs Bloomberg Technoz.