
Bloomberg Technoz, Jakarta - Perputaran ekonomi selama Ramadan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.000 triliun.
Nilai tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi umat yang dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Topik tersebut menjadi pembahasan dalam Bloomberg Technoz Podcast Ramadan Spark 2026 Episode 10, ketika Sisi Aspasia dan Winda Mizwar berbincang dengan Deva Rachman, Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB) Kementerian Koperasi.
Dalam diskusi tersebut, Deva menjelaskan bahwa salah satu fokus pemerintah saat ini bukan hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik saat ini, yang perlu kita jaga bukan hanya pertumbuhan, tetapi pemerataan,” ujarnya.
LPDB sendiri merupakan lembaga yang berada di bawah Kementerian Koperasi dan bertugas menyalurkan dana bergulir kepada koperasi di berbagai sektor ekonomi.
Sejak berdiri pada 2008, lembaga ini telah menyalurkan dana bergulir dalam jumlah besar untuk mendukung pengembangan koperasi di Indonesia.
“Sejak 2008 kami sudah menyalurkan sekitar Rp21 triliun kepada koperasi,” kata Deva.
Pada 2026, pemerintah menyiapkan tambahan dana sebesar Rp2,1 triliun untuk memperkuat koperasi di berbagai sektor, termasuk pertanian, perumahan, pertambangan, hingga koperasi produksi.
“Tahun ini kami menargetkan penyaluran dana bergulir sekitar Rp2,1 triliun,” ujarnya
Menurut Deva, salah satu keunggulan skema pembiayaan LPDB adalah tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan pembiayaan perbankan.
Untuk pembiayaan konvensional, bunga yang dikenakan sekitar 6,5%, sedangkan untuk skema syariah hanya sekitar 3,5%, tanpa biaya provisi maupun administrasi tambahan.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong koperasi berkembang lebih cepat sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi rakyat.
Selain pembiayaan, LPDB juga memiliki program inkubasi untuk memperkuat kapasitas koperasi agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Kami memiliki program inkubator untuk mendampingi koperasi agar siap berkembang dan mengelola usaha dengan baik,” kata Deva.
Program tersebut melibatkan berbagai lembaga inkubator yang setiap tahunnya mendampingi ratusan koperasi di berbagai daerah.
Pemerintah juga tengah mendorong penguatan koperasi melalui program Koperasi Desa Merah Putih yang saat ini telah terbentuk di puluhan ribu desa di Indonesia.
Program ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian desa sekaligus mendorong pemerataan ekonomi nasional.
Menurut Deva, koperasi memiliki prinsip yang sangat relevan dengan nilai gotong royong yang menjadi fondasi ekonomi Indonesia.
“Di koperasi tidak ada majikan dan pekerja. Semua anggota memiliki suara yang sama dan berbagi hasil usaha bersama,” ujarnya.
Ia juga menilai keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting untuk memperkuat koperasi di masa depan.
Saat ini, rata-rata usia anggota koperasi di Indonesia masih berada di atas 50 tahun, sehingga diperlukan regenerasi agar koperasi tetap relevan dengan perkembangan ekonomi modern.
Untuk itu, LPDB mendorong keterlibatan mahasiswa dan generasi muda melalui berbagai program edukasi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi.
“Kami ingin generasi muda mulai melihat koperasi sebagai peluang ekonomi, bukan sekadar konsep lama,” kata Deva.
Ia menilai koperasi memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai sektor ekonomi, termasuk ekonomi kreatif, digital, hingga industri ekspor.
Dengan dukungan pembiayaan, pelatihan, serta keterlibatan generasi muda, koperasi diharapkan dapat kembali menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional.
Perbincangan lengkap mengenai peran koperasi dalam ekonomi Indonesia, program dana bergulir LPDB, serta peluang generasi muda dalam membangun ekonomi berbasis komunitas dapat disaksikan dalam Bloomberg Technoz Podcast Ramadan Spark 2026 Episode 10 di situs Bloomberg Technoz.

































