Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark

Gilang Dirga: Dari Panggung Hiburan Menuju Makna Spiritual


Ramadan Sparks 2026: Dari Panggung ke Sajadah: Gilang Dirga Akhirnya Lepas Topeng (Bloomberg Technoz)
Ramadan Sparks 2026: Dari Panggung ke Sajadah: Gilang Dirga Akhirnya Lepas Topeng (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ramadan sering kali menjadi momen yang mengajak seseorang memperlambat langkah dan melihat kembali perjalanan hidupnya. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, refleksi semacam ini menjadi semakin penting, terutama bagi mereka yang hidup di bawah sorotan publik.

Hal tersebut menjadi pembahasan menarik dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 Episode 3, ketika Sisi Aspasia dan Winda Mizwar berbincang bersama aktor, presenter, sekaligus entertainer Gilang Dirga. Percakapan ini membuka sisi personal dari sosok yang selama ini dikenal dengan energi humor dan kemampuannya meniru berbagai karakter di panggung hiburan.

Dalam diskusi tersebut, Gilang menyoroti bagaimana dunia modern sering kali memaksa orang untuk terus mengejar standar kesuksesan tertentu, terutama di era media sosial yang penuh kompetisi, oversharing, dan budaya flexing.

“Di era hyper-competitive hari ini, kesuksesan seseorang itu menjadi sesuatu tolak ukur,” ujar Gilang dalam perbincangan tersebut.

Ia menilai bahwa standar kesuksesan sering kali hanya dilihat dari pencapaian yang terlihat dari luar. Padahal di balik itu, banyak orang yang sebenarnya menghadapi kerentanan dan tekanan yang tidak terlihat.

“Jarang kali kita dihadapkan oleh hal-hal yang apakah seseorang yang sukses itu tidak pernah vulnerable dan juga tidak pernah susah,” lanjutnya.

Sebagai figur publik yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan, Gilang mengaku pernah berada pada fase ketika ia terlalu fokus mengejar pengakuan dari luar.

Ia secara jujur mengungkap bahwa dalam perjalanan kariernya, ada masa ketika motivasi utama yang dikejar adalah validasi eksternal—mulai dari angka rating, exposure, hingga popularitas.

“Kalau dulu aku kebanyakan berusaha mencari validasi di luar. Kita mengejar sesuatu yang sifatnya eksternal—angka, rating, share, exposure,” kata Gilang.

Namun seiring waktu, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai menyadari bahwa pencapaian semacam itu tidak selalu membawa ketenangan.

Kini, menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan dapat memberikan dampak positif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Sekarang perbedaannya adalah gimana caranya sesuatu yang kita lakukan itu bisa berdampak positif untuk diri sendiri melalui kejujuran tadi,” ujarnya.

Perubahan perspektif tersebut membuat Gilang mulai melihat kehidupan secara lebih sederhana. Baginya, salah satu indikator kebahagiaan justru muncul dari hal yang sangat personal: ketenangan ketika kembali ke rumah setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

“Ketika kita pulang ke rumah jadi enggak banyak pikiran-pikiran negatif. Sisanya tinggal tenang aja,” ungkapnya.

Di tengah tuntutan dunia hiburan yang sering kali menuntut seseorang untuk tampil sempurna, Gilang juga mengakui bahwa seorang figur publik kadang tetap harus memainkan peran tertentu di depan kamera.

Namun baginya, penting untuk tetap jujur pada diri sendiri di balik semua itu.

“Kadang-kadang kita tetap pakai topeng karena di depan kamera harus terlihat positif,” katanya.

Percakapan di Ramadan Spark ini menjadi pengingat bahwa kehidupan publik yang terlihat glamor tidak selalu mencerminkan perjalanan personal seseorang. Di balik sorotan kamera dan panggung hiburan, setiap individu tetap memiliki proses pencarian makna hidupnya sendiri.

Ramadan pun menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi tersebut—tentang bagaimana seseorang memaknai kesuksesan, kebahagiaan, dan ketenangan batin di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Jangan lewatkan perbincangan lengkap mengenai perjalanan refleksi Gilang Dirga dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 Episode 3, hanya di situs Bloomberg Technoz www.bloombergtechnoz.com