Logo Bloomberg Technoz

"Di tengah tantangan jangka pendek, industri perbankan tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit UMKM pada 2026 yang diproyeksikan mencapai 7–9% secara tahunan (yoy), didukung oleh tingginya keyakinan konsumen," kata Dian mengutip dari keterangan tertulis OJK, Rabu (11/3/2026).  

Ke depan, industri perbankan tetap optimistis terhadap prospek pembiayaan UMKM, seiring tingginya tingkat keyakinan konsumen. OJK mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada awal 2026 berada di level 127, sementara Consumer Price Index tercatat 109,75, yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Selain itu, momentum konsumsi selama periode Ramadan dan Lebaran (Seasonal Effect) juga diperkirakan akan mendorong aktivitas ekonomi pada triwulan I-2026, khususnya bagi sektor UMKM melalui peningkatan permintaan kredit modal kerja.

Untuk memperluas akses pembiayaan, OJK telah menerbitkan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM. Regulasi ini mewajibkan bank dan lembaga keuangan non-bank menyediakan skema pembiayaan yang mudah, cepat, tepat, murah, dan inklusif bagi pelaku UMKM.

"Saat ini, OJK terus berkoordinasi dengan industri perbankan terkait implementasi POJK UMKM dalam rencana bisnis bank," jelasnya. 

OJK juga mendukung program pemerintah, termasuk target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2026 sebesar Rp308,41 triliun. Menurut Dian, sinergi antar lembaga serta penguatan ekosistem pembiayaan diharapkan dapat mendorong sektor UMKM tumbuh lebih kuat dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Untuk diketahui, kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96% secara tahunan menjadi Rp8.597 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,63% yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38% yoy, diikuti kredit konsumsi 6,58% yoy, dan kredit modal kerja 4,13% yoy. Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 16,07% yoy dan ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh sebesar 13,43% yoy.

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,48% yoy menjadi Rp10.076 triliun, sedikit melambat dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 13,83% yoy. Pertumbuhan DPK tersebut ditopang oleh giro yang naik 19,75% yoy, deposito 12,61% yoy, serta tabungan 8,27% yoy.

Dari aspek likuiditas, rasio alat likuid terhadap non-core deposit (ALNCD) tercatat 121,23%, turun dari 126,19% pada Desember 2025, namun tetap jauh di atas ambang batas 50%. Sementara rasio alat likuid terhadap DPK (ALDPK) sebesar 27,54%, dibandingkan 28,57% pada Desember 2025, masih di atas threshold 10%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 197,92%.

Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,14%, naik tipis dari 2,05% pada Desember 2025. NPL net berada di level 0,89%, dibandingkan 0,79% pada bulan sebelumnya. Adapun Loan at Risk (LaR) tercatat 9,01%, sedikit meningkat dari 8,77% pada Desember 2025.

Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) perbankan sebesar 2,49%, relatif stabil dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 2,53%. Sementara itu, permodalan perbankan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,87%, atau sama dengan posisi Desember 2025.

(ain)

No more pages