“Dalam kondisi seperti ini biasanya investor melakukan risk-off dan mengurangi eksposur di emerging markets, termasuk Indonesia. Jadi pergerakan rupiah sekarang lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibanding perubahan fundamental ekonomi domestik,” jelasnya.
David menilai pandangan otoritas moneter bahwa nilai tukar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat.
Beberapa indikator makro menunjukkan ekonomi nasional masih berada pada jalur yang relatif stabil.
Inflasi, misalnya, masih berada dalam kisaran sasaran sekitar 2,5 persen untuk periode 2026–2027. Di sektor keuangan, penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh sekitar 9,96 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 5,11 persen.
“Artinya secara makro tidak ada perubahan drastis yang menjelaskan pelemahan rupiah sedalam ini. Analogi sederhananya, rumahnya masih berdiri dengan struktur yang kuat, tetapi harga pasarnya sedang turun karena sentimen global dan kondisi lingkungan sedang bergejolak,” kata David.
Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dinilai dapat membantu memperkuat stabilitas nilai tukar.
Dengan mewajibkan sebagian hasil ekspor sumber daya alam disimpan lebih lama di dalam negeri, likuiditas dolar di sistem keuangan domestik berpotensi meningkat signifikan.
“Logikanya sederhana. Kalau selama ini devisa ekspor cepat keluar lagi ke luar negeri, pasar valas domestik menjadi tipis. Kebijakan DHE ini seperti membangun bendungan valas agar aliran dolar lebih lama berada di dalam negeri,” ujarnya.
Ke depan, David menilai stabilitas rupiah sangat bergantung pada konsistensi kebijakan ekonomi.
Ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas koordinasi kebijakan makro antara pemerintah dan bank sentral, memperdalam pasar valuta asing domestik, menjaga disiplin fiskal, serta memperkuat arus devisa dari ekspor dan investasi.
“Dalam situasi global yang sangat volatil seperti sekarang, stabilitas rupiah pada akhirnya bukan hanya soal supply dan demand dolar, tetapi juga soal kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi kita,” pungkas David.
(red)



























