Logo Bloomberg Technoz

Harga Brent turun sekitar US$20 dari level tertinggi - menandai penurunan terbesar sepanjang sejarah dari level tertinggi intraday ke harga penutupan. Brent untuk penyelesaian Mei 2026 ditutup naik 6,8% menjadi US$98,96/barel pada Senin setelah mencapai puncak US$119,50/barel dalam sesi tersebut.

“Volatilitasnya masih tinggi, up and down, up and down dalam varian yang sangat ekstrem. Jadi kita mudah-mudahan dengan tadi pagi pidatonya Trump juga mulai agak melunak dan situasinya mudah-mudahan dalam waktu dekat juga akan mereda. Buktinya hari ini minyak kembali mendekati ke US$80/barel, tidak terlalu ekstrem,” ujar dia. 

Dia pun meminta pemerintah dapat bijak dalam merespons setiap peristiwa yang terjadi di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia. Pemerintah perlu memantau secara ketat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tersebut. 

“Respon kita harus terukur. Wait and see, jangan kita langsung setiap gerakan diberikan reaksi. Kita harus lihat seperti apa kejadiannya, respon berikutnya seperti apa, ya kita lihat perkembangan sampai terakhir apakah kelanjutan serangan-serangan rudal balistik dan sebagainya itu memberikan dampak seperti apa terhadap harga minyak,” ungkap dia. 

Harga Minyak Mulai Melandai 

Harga minyak dunia mulai turun usai Presiden AS Donald Trump menyiratkan bahwa perang dengan Iran mungkin akan segera berakhir. Sebelumnya, konflik di Timur Tengah ini memang mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran baru tentang krisis inflasi.

Indeks West Texas Intermediate (WTI) turun hingga 10% menjadi US$85,52/barel, setelah sesi perdagangan yang volatil pada Senin lalu -- harga minyak berfluktuasi dalam rentang terlebar sejak harga sempat turun di bawah nol selama puncak pandemi. 

Trump mengatakan kepada CBS News bahwa ia yakin perang tersebut “sangat lengkap, hampir selesai.”

Sehari sebelumnya, harga minyak mentah sempat menembus US$100/barel pada awal sesi Senin lalu. Kemudian harga turun kembali saat ekonomi terbesar dunia mempertimbangkan upaya untuk melepaskan cadangan minyak darurat. 

Namun, Selat Hormuz yang vital tetap efektif tertutup, yang menyebabkan produsen utama di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, mengurangi produksi.

“Saya pikir ini akan menjadi fluktuasi jangka pendek,” kata Trump kepada anggota Kongres Republik pada Senin di resornya di Doral, Florida. Pernyataan itu dibuat beberapa jam setelah presiden berbicara dengan CBS.

Fluktuasi harga yang intens pada Senin membuat WTI diperdagangkan dalam rentang US$38. Sedangkan Brent turun sekitar US$20 dari level tertinggi - menandai penurunan terbesar sepanjang sejarah dari level tertinggi intraday ke harga penutupan.

-Dengan asistensi Dovana Hasiana- 

(lav)

No more pages